Sebuah Kereta Tua

Puteri Q.
Chapter #26

Epilog


​Tiga bulan kemudian.

​Aroma sangrai kopi lokal beradu dengan harum adonan donat kampung yang baru diangkat dari penggorengan. Udara pagi di teras samping rumah panggung terasa sejuk, disiram sinar matahari pukul delapan yang menerobos dari sela-sela daun pohon ceri.

​Alya duduk di atas lincak kayu jati tua. Di pangkuannya, sebuah laptop perak dalam kondisi mati tergeletak begitu saja. Ia tidak lagi membuka dasbor user retention atau pusing memikirkan grafik funding investor. Kartu nama bergelar Chief Product Officer sudah lama menjadi abu di tempat sampah Jakarta. Di sini, Alya hanya menjadi Alya—seorang perempuan yang sedang menikmati kopi hitamnya tanpa rasa kejar-kejaran waktu.

​"Alya, ini serbet bersihnya," ujar Ibu sambil berjalan perlahan dari arah dapur, membawa selembar kain lap rajut berwarna krem.

​Alya cepat-cepat berdiri, menyambut Ibunya dan mengambil lap tersebut dari tangan tua yang kulitnya mulai mengendur itu. "Kan Alya bisa ambil sendiri, Bu. Ibu duduk saja, nanti kaki Ibu pegal lagi."

​Ibu terkekeh pelan, duduk di lincak tempat Alya tadi bersandar. Matanya yang teduh menatap Alya yang sibuk mengelap permukaan meja kayu teras.

Lihat selengkapnya