Setelah mencium tangan Rahman, Hamid memulai perjalanan pulangnya. Ustaz Rahman menatap kepergian menantunya itu dengan penuh pengharapan. Harapan akan masa depan yang sangat dinanti-natikannya. Setelah sekian lama ia memikirkan bagaimana nasib pesantren yang diasuhnya setelah dirinya tiada. Anak laki-laki yang pernah telah didiknya untuk menjadi pewarisnya telah tiada di saat usianya masih belia. Dan kini ia merasa yakin bahwa Hamid dapat diandalkannya.
Rahman sedikit menaikkan wajahnya. Ia seolah dapat melihat peristiwa beberapa tahun yang lalu saat dirinya masih menemani sang putra tercinta untuk memuroja’ah hafalannya. Sang putra yang sangat dibanggakannya karena sudah menguasai 30 juzz Al-qu’an di saat usianya baru saja menginjak sembilan tahun. Begitu pula dengan ilmu pengethauan agama yang lainnya. Senyumannya menarik hati banyak orang. Membuatnya merasa bahwa putranya itu sangatlah pantas untuk menggantikan tugasnya di kemudian hari.
Namun kejadian yamg tak diinginkan terjadi. Di saat dirinya dan sang istri sedang berbangga hati, seorang putra yang digadang-gadang Rahman menjadi pewarisnya malah diambil oleh Yang Maha Kuasa di saat dengan cara mudahnya. Sang putra tercinta harus mengalami sakit demam selama beberapa hari lamanya. Ia sempat bernapas lega karena putra tercintanya bisa sembuh dari sakitnya. Namun cobaan kedua datang ketika secara tiba-tiba sang putra mendadak kehilangan seluruh hafalan Al-qur’annya. Dan takdir pun memintanya untuk kembali pada Sang Pencipta tak lama setelah itu.
Kematian sang putra tentu membuat Ustaz Rahman dan sang istri menderita. Pasalnya ia hanya memiliki satu putra. Dan mereka pun telah berusaha keras untuk mempersiapkan putra mereka tersebut untuk menjadi pewaris Rahman. Dengan hati yang sangat berat, Rahman harus melupakan impiannya untuk melihat putranya itu menggantikan tugasnya untuk mengasuh pondok pesantren.
Ustaz Rahman membuang napas panjang. Lalu ia berkata, “Kurasa kamu memang pantas untuk menjadi pewarisku, Hamid. Kurasa jiwa putraku berpindah dalam dirimu. Senyumanmu juga kepandaianmu sama seperti putraku. Juga kemampuan menghafalmu sama seperti putraku yang saat berusia sembilan tahun sudah hafal 30 juzz. Kurasa ini bukanlah kebetulan. Tapi memang sudah rencana Tuhan.”
“Dan kurasa ini maksud Allah mengirimkan anak perempuan di keluarga ini setelah satu tahun kepergian putraku,” tambahnya.
Matahari hampir saja tak menampakkan wajahnya ketika Hamid memarkirkan mobilnya, Zahra langsung berjalan menuju kamar. Ia teringat akan wajah Surya ketika ia dan Hamid hendak berangkat ke pesantren. Wajah sang putra yang penuh dengan pertanyaan serta diliputi kesedihan membuat dirinya merasa khawatir akan apa yang tengah dilakukan putranya selama ditinggalkannya dalam waktu sekitar satu jam itu.