Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #2

1.Kehilangan Impian

Suhu dalam ruangan tak terkira tingginya. Menciptakan panas yang luar biasa bagaikan berada di dalam neraka. Wajah Ustazah Salamah memerah karena tak tahan dengan hawa panasnya. Sementara itu, tubuhnya merasa lengket karena keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya.

Keringat yang mengalir di tubuh Salamah dan Rahman bukan terjadi karena kesibukannya mengasuh pesantren selama sehari penuh. Namun keringat itu mengalir karena panasnya suasana yang sedang terjadi di dalam rumahnya. Sore hari yang diharapkan akan membawa keteduhan setelah panasnya sinar matahari yang semakin berkurang. Juga karena tugas mengajar di kelas telah usai. Malah tak terjadi. Justru yang terjadi malah hal yang sebaliknya.

Wajah Salamah memerah. Hasil dari panasnya suasana di rumah. Ia berjalan maju mundur. Bersiap untuk menularkan rasa panas yang menyelimuti tubuhnya pada orang yang menjadi penyebab adanya permasalahan tersebut. Sementara Rahman hanya diam mematung tepat satu langkah di belakangnya. Dan Zahra tak pernah berhenti meneteskan air matanya sambil duduk di sofa.

“Dasar menantu tidak berguna! Sudah tingkahnya kekanak-kanakan. Sekarang malah dipecat dari pekerjaan,” bentak Salamah pada Hamid yang duduk di sebuah sofa di hadapannya.

“Sekarang dengan apa kamu mau menafkahi keluargamu?” tambahnya.

Hamid hanya bisa diam ketika Salamah melontarkan amarah kepadanya. Bukan karena dirinya tak dapat berkata apapun untuk menyanggah apa yang diucapkan sang ibu mertua kepadanya. Namun diamnya adalah suatu isyarat bahwa dirinya menerima dengan hati yang lapang amarah tersebut dan menyimpannya di hati yang terdalam.

Hamid menyadari betapa besar kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia menyadari bahwa dirinya telah menciptakan sebuah masalah yang amat besar. Saking besarnya masalah tersebut hingga dapat mengubah suasana keluarga yang penuh dengan ketenangan selama beberapa bulan terakhir menjadi kacau.

Sungguh hatinya tak kuasa memberinya perintah untuk memberitahukan pada kedua orang tuanya tentang apa yang sedang dialaminya. Semula ia berniat untuk menutupi masalah pemecatan dirinya dari TNI dari keluarganya. Namun nasihat dari Zahra menyadarkannya bahwa ia tak bisa selamanya menutupi rahasia tersebut. Kedua orang tuanya harus mengetahuinya. Walaupun ia tahu bahwa kebenaran itu sangatlah pahit. Dan apa yang akan diterimanya setelah memberitahukan kabar tersebut pada kedua orang tuanya jauh lebih baik.

Hamid masih menundukkan kepalanya. Bahkan ia menundukkannya semakin dalam. Ia sungguh tak ingin menanggapi apa yang dikatakan oleh Salamah walau hanya dengan sebuah kata maaf. Karena ia tahu hal tersebut tak kan bisa untuk menghapuskan kemarahan di hati sang ibu mertua padanya.

Lihat selengkapnya