Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #3

2.Niat Rahman

Walaupun Hamid tak melihat tatapan mata Salamah yang ditujukan kepada dirinya, namun hatinya dapat merasakan betapa seramnya wajah sang ibu mertua. Sementara itu, Zahra yang duduk di sebuah sofa di samping Hamid tak pernah berhenti sedetikpun untuk menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya. Lamanya menyaksikan kejadian yang terjadi di depan matanya menjadikan air matanya semakin deras mengalir. Hati kecilnya tak bisa menahan rasa sakit ketika sang suami terus mendapat amarah dari sang ibu. Namun ia tak berdaya untuk membela sang suami yang sedang dihujani oleh amarah ibunya.

Sementara air mata Zahra mengalir semakin deras, Rahman mencoba mengabaikan apa yang dilakukan Salamah pada Hamid. Senyuman di wajahnya belum memudar sedikitpun. Dengan senyuman yang masih melekat itu, ia berjalan mendekati Hamid. Tangannya yang lembut diletakkan di atas bahu menantunya itu. Lalu ia berbisik di telinga sang menantu, “Jangan diambil hati ya, Nak. Ummimu memang seperti itu orangnya.”

“Ini memang salahku, Abi. Karena aku dipecat, semua masalah ini terjadi,” jawab Hamid dengan suara yang berat.

Rahman menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia berkata, “Tidak, Nak. Kamu tidak salah apa-apa. Ini hanyalah musibah.”

“Dan mungkin ini adalah bagian dari rencana Allah. Rencana Allah untuk menjadikanmu sebagai penerus pesantren ini,” tambahnya dengan melebarkan senyum di wajahnya.

Rahman menatap wajah Hamid. Hamid menaikkan wajahnya sedikit agar dapat terlihat olehnya wajah sang ayah mertua. Rahman menatap dalam wajah Hamid sambil.menunjukkan senyumannya pada menantunya itu. Setelah itu, ia berkata, “Nak Hamid, Abi sangat percaya padamu bahwa kamu bisa melanjutkan perjuangan Abi untuk mengasuh pesantren ini. Abi yakin sekali kalau pesantren ini berada di tanganmu, pasti nama pesantren ini semakin besar.”

Perkataan Rahman membuat Hamid tercengang. Mulutnya yang semula membungkam semakin terkunci rapat. Ia tak mengerti mengapa sang ayah mertua membicarakan tentang hal tersebut di saat yang bukan seharusnya. Masalah tentang siapa yang akan menjadi penerus untuk melanjutkan perjuangan Rahman dalam mengasuh pondok pesantren seharusnya tak menjadi pokok pembahasan saat itu.

Memang hal itu tak harus dibicarakan. Sebab yang harus dilakukan hanyalah berkonsentrasi pada masalah yang terjadi pada Hamid. Sebuah masalah yang telah mencemarkan nama baik keluarga. Sebuah masalah yang juga akan menjadi awal dari semua penderitaan yang akan dialami Zahra beserta seluruh anggota keluarganya.

Dalam rasa heran akan topik yang sedang dibicarakan sang ayah mertua, Hamid mencoba untuk menggerakkan bibirnya. Kemudian ia berkata, “Tapi Abi, aku tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.”

“Kamu punya, Hamid. Ilmu pengetahuan agamamu Abi rasa sudah cukup untuk menjadi penerus Abi,” ucap Rahman dengan penuh keyakinan.

Lihat selengkapnya