Kedua mata Zahra semakin melebar setelah mendengarkan jawaban dari Surya. Ia tak mengerti tentang apa dimaksud sang putra dalam ucapannya tersebut. Asumsinya langsung tertuju pada masalah yang sedang dihadapinya bersama Hamid. Sebab sebelum pergi ke pesantren untuk mengadukan masalah yang sedang terjadi pada kedua orang tuanya, Surya sempat mendengarnya sejenak. Ekspresi di wajahnya menggambarkan betapa penasarannya putranya itu terhadap apa yang terjadi. Saat itu dirinya dan Hamid sempat kebingungan dalam menyiapkan jawaban agar sang putra dapat memahaminya. Dan akhirnya keduanya terselamatkan karena Surya harus bergegas untuk pergi mengaji.
Ketakutan di hatinya kini kembali setelah mendengar pernyataan yang diucapkan Surya. Yang membuat dirinya heran hanyalah mengapa Surya dapat mengerti apa yang sedang terjadi. Yang tak ia mengerti hanyalah darimana putra kecilnya itu mendapatkan berita tentang pemecatan ayahnya. Ia mengira bahwa Surya tak kan lagi membahasnya. Ia mengira bahwa dengan fokus mengaji, putranya itu akan langsung melupakan apa yang baru saja terjadi dan tak lagi bertanya padanya seperti yang terjadi satu jam yang lalu.
Zahra menatap wajah Surya. Lalu demi memantapkan hatinya yang masih bertanya-tanya, ia berkata pada Surya,” Kamu benar-benar tahu?”
Surya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menunjukkan senyumannya yang termanis. Melihat isyarat yang ditunjukkan Surya padanya sebagai jawaban atas pertanyaannya, Zahra kembali bertanya, “Kamu benar-benar tahu kalau ayahmu sudah dipecat dari militer dan sekarang ayahmu tidak menjadi tentara lagi?”
Surya kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. Senyumannya juga masih melekat di wajahnya.
Jantung Zahra berdetak kencang ketika melihat isyarat yang ditunjukkan Surya padanya. Pengetahuan Surya tentang masalah yang terjadi dalam keluarganya membuatnya harus bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Ia benar-benar harus bersiap untuk menghadapi sebuah masalah baru setelah masalah pemecatan Hamid.
Dirinya tak bisa menyalahkan Ningsih yang sudah dipesannya sebelumnya untuk tak memberitahukan masalah yang sedang terjadi pada siapapun. Terutama pada Surya. Ia mengerti bahwa putranya pasti mendesak asisten rumah tangganya tersebut untuk menjawab pertanyaan darinya dengan kenakalannya. Dan mungkin hal itu sudah menjadi takdir Tuhan agar Surya dapat memahami masalah yang terjadi dalam keluarganya. Ia tak bisa menyalahkan Ningsih dalam kecelakaan tersebut.
Zahra mencoba untuk menabahkan hatinya sambil berharap bahwa tak akan ada lagi masalah yang akan menambah duka dalam keluarganya setelah Surya memahami apa yang sedang terjadi. Walaupun hatinya masih merasakan kecemasan yang luar biasa, Zahra mengatur napasnya. Kemudian ia berkata pada Surya, “Ayo kita salat! Kita bahas itu nanti saja.”
Surya menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat. Lalu ia menjawab, “Baik, Bu.”
Suasana begitu hening. Ibadah salat magrib berjalan dengan khusyuk namun terkesan mencekam. Usai melaksanakan salat magrib pun serasa begitu sunyi. Hampir tak ada suara ketika ketiga orang yang selesai menjalankan ibadah salat itu membaca Al-qur’annya masing-masing. Bahkan suara Hamid hampir saja tak keluar ketika memuroja’ah hafalannya. Hanya ada suara Surya yang terdengar sangat jelas dan merdu. Seolah tak merasakan duka sama sekali setelah memahami masalah yang sedang terjadi.
Hamid mencoba untuk menyembunyikan kesedihan di wajahnya ketika berada di hadapan Surya. Ia tetap menemani putranya itu untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Hal yang sama dilakukan oleh Zahra ketika dirinya menidurkan Kartika juga kedua anak kembarnya. Ia berusaha keras untuk menghadirkan senyuman di wajahnya ketika bersama dengan ketiga anaknya tersebut.
“Ayah sudah tidak jadi tentara lagi, ya?” celetuk Surya setelah selesai belajar.
Hati Hamid kembali terasa hancur ketika Surya mempertanyakan tentang masalahnya yang tengah dihadapinya. Meskipun hatinya sakit, namun ia tetap berusaha untuk melupakan rasa sakitnya itu dan tetap menunjukkan senyumannya pada Surya.