Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #5

5.Antara Masa Depan dan Kenangan

Mulut Hamid terbungkam. Sepatah katapun tak bisa ia keluarkan dari mulutnya yang selalu ingin mengungkapkan isi hati tersebut. Mendengar kalimat yang diucapkan Zahra kepadanya menjadikannya teringat akan amanat dari Ustaz Rahman. Kalimat yang mirip membuatnya dapat menarik kesimpulan bahwa Zahra memiliki pendapat yang sama dengan sang ayah mertua. Ingin menjadikan dirinya sebagai pengasuh pondok pesantren yang kini masih berada di tangan Ustaz Rahman.


  Hamid menatap dalam wajah Zahra. Di mata istrinya ia dapat melihat keseriusan dalam ucapannya. Kemantapan hati sang istri tentang apa yang akan menjadi masa depannya juga tergambar di bola matanya yang selalu menyejukkan hatinya. Harapan yang tergambar di mata sang istri membuat hati Hamid bergetar. Entah mengapa hati kecilnya mempercayai apa yang menjadi keyakinan Ustaz Rahman yang kini juga menjadi keyakinan Zahra jua. Belum genap dua puluh empat jam setelah mendapatkan masalah tentang pemecatan dirinya, ia dipaksakan kembali menerima sebuah persoalan yang membuat dirinya harus memikirkannya dalam-dalam.


  “Kenapa Kakak berpikiran sama dengan Abi? Apa Kakak merasa yakin kalau aku bisa melanjutkan perjuangan Abi? Aku tidak bisa mengurus pesantren, Kak. Bahkan aku belum pernah mengajar satu murid pun,” tanya Hamid.


  Sebuah senyum tipis terbentuk di wajah Zahra. Ditemani dengan senyuman itu, ia menganggukkan kepalanya. Lalu ia menjawab pertanyaan Hamid dengan berkata, “Kamu pasti bisa, Hamid. Hanya saja kamu belum mencobanya.”


  “Apa ini? Kenapa semua orang menyuruhku untuk menjadi penerus Abi?” tanya Hamid lirih.


  Hamid memalingkan wajahnya dari Zahra. Kemudian ia meletakkan kedua tangannya pada dahinya. Wajahnya nampak memucat layaknya seseorang yang tengah sakit.


 Hamid tak kuasa lagi dengan masalah-masalah yang sedang terjadi. Masalah pemecatan dirinya telah memenuhi isi kepalanya. Kini isi kepalanya bertambah penuh dengan pengamanahannya untuk melanjutkan perjuangan sang ayah mertua. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukannya setelah mendapatkan amanah itu.


   Dengan senyuman yang masih melekat di wajahnya, Zahra menyentuhkan tangan kanannya di pundak Hamid. Lalu ia berkata dengan nada yang lembut, “Sudah, jangan bersedih! Sekarang lebih baik kamu istirahat saja! Supaya besok pikiranmu bisa segar kembali dan siap menerima amanah dari Abi.”


  Suara lembut Zahra mampu mengalihkan perhatian Hamid. Hamid kembali menatap wajah sang istri. Hatinya masih belum siap menerima takdir yang ditawarkan kepadanya. Namun mulutnya juga tak dapat berkata apa-apa untuk menanggapi ucapan Zahra.

Lihat selengkapnya