Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #6

6.Meninggalkan Markas

Usai melaksanakan salat tahajud, Hamid berusaha untuk menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Setelah itu, ia berusaha untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Sebelum melakukannya, ia terlebih dahulu menolehkan wajahnya pada Zahra. Diperhatikannya sang istri yang telah tertidur pulas setelah menidurkan kedua bayinya, setelah itu Kartika, dan terakhir Surya. Air matanya kembali tumpah ketika melihat senyuman yang masih melekat di wajah Zahra. Hamid tahu jika itu hanyalah sebuah senyuman palsu. Sebuah senyuman palsu yang tercipta dari harapan yang palsu.

Ya. Mungkin bisa dikatakan harapan palsu. Karena memang Hamid tak berkeinginan untuk menjadi pengasuh pondok pesantren. Bahkan Hamid tak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Mungkin sang istri hanya mengikuti sang ayah untuk menaruh harapan padanya. Mungkin sang istri melakukannya hanya untuk menghilangkan duka di hatinya setelah dirinya memberinya masalah.

Hati Hamid hancur ketika menyadari hal tersebut. Ia tak bisa menghapuskan rasa bersalah dalam hatinya karena telah membuat Zahra sempat menangis setelah dirinya membagi masalahnya. Rasa bersalahnya semakin bertambah dengan ketidakhadirannya untuk membantu sang istri menidurkan keempat anaknya dan malah fokus pada masalahnya sendiri.

Hamid menghela napas pendek. Lalu ia mengalihkan perhatiannya dari Zahra. Ia mulai menggerakkan tangannya yang lemah untuk menarik selimut yang hanya menutup setengah tubuh Zahra saja. Mungkin karena terlalu fokus untuk menyelesaikan masalah yang dialaminya, istrinya itu menjadi tak fokus untuk melindungi tubuhnya sendiri dari dinginnya malam.

Menyaksikan hal tersebut membuat rasa bersalah dalam diri Hamid semakin bertambah. Tak ingin lagi menambah derasnya air matanya, ia mengalihkan perhatiannya pada Kartika yang sudah tumbuh semakin besar setelah ia tinggal bertugas selama beberapa bulan lamanya. Senyum tipis menghiasi wajahnya yang sedang dirundung duka. Ia lalu menggunakan tangan kanannya untuk membelai rambut sang putri yang tentunya sudah mulai memanjang. Tak lupa ia mencium keningnya pula sebelum ia kembali memalingkan wajahnya.

Kenangan Hamid kembali menghampirinya di saat dirinya hendak mengistirahatkan tubuhnya. Di saat malam yang telah sangat larut dan tidurpun seharusnya sudah dimulai sejak beberapa jam yang lalu. Kedua mata Hamid tetap terbuka lebar ketika kenangan tentang hari kelamnya kembali. Kenangan itu bukanlah kenangan masa kecilnya yang tengah fokus untuk menggapai cita-citanya. Namun kenangan itu merupakan kenangan terpahit dalam hidupnya. Yang tak lain kenangan itu adalah alasan yang menjadikannya dikeluarkan dari keanggotaan TNI yang sudah dicita-citakannya sejak lama. Dan membuat hidupnya menjadi kacau seperti saat ini.

Air mata Hamid kembali mengalir tanpa ia perintahkan untuk melakukannya. Peristiwa itu begitu pahit. Hingga ia tak bisa melupakannya. Dan ia juga tak tahu kapan sejarah terkelam itu akan terhapuskan dari ingatannya.

“Sebenarnya aku tidak mau melepas loreng dan baret kesayanganku. Tapi aku terpaksa melakukannya. Aku tahu kesalahanku begitu besar. Dan memang ini yang pantas kuterima,” ucap Hamid sambil terus berjalan keluar markas.

Hamid hanya dapat menundukkan kepalanya saat tubuhnya tak lagi diselimuti dengan loreng kesayangannya. Juga dengan kepala yang tak lagi dihiasi dengan baret hijaunya.

Ia hanya bisa pasrah. Ia memang sudah menduga bahwa dirinya akan mendapatkan hukuman itu di kemudian hari. Dan saat waktunya telah tiba, maka hanya ada satu yang bisa dilakukannya. Yaitu ia pun harus ikhlas menerimanya.

Sentuhan tangan lembut yang entah darimana asalnya tiba-tiba menempel di bahunya. Hamid pun langsung menghentikan langkahnya. Lalu ia bergegas menolehkan wajahnya pada orang yang sedang menempelkan tangannya ke pundaknya itu.

Hamid menatap wajah orang yang baru saja menempelkan tangannya di pundaknya. Yang ternyata orang tersebut adalah Wisnu. Dengan wajah yang muram, Wisnu berkata setelah ia menolehkan wajahnya kepadanya, “Hamid, maaf, aku tidak bisa membantu lebih. Aku juga tidak berharap ini kalau ini terjadi. Sekali lagi maafkan aku, Hamid.”

Hamid membentuk senyum di wajahnya. Lalu ia menanggapi perkataan sahabatnya itu dengan berkata, “Kamu tidak perlu meminta maaf, Wisnu. Ini semua bukan salahmu. Sebaliknya, kamu sudah berbuat banyak untuk membantuku.”

Hamid menundukkan wajahnya lalu melanjutkan perkataannya, “Aku sangat menyesal, Wisnu. Seharusnya aku tidak bersikeras untuk masuk Akmil. Semua ini pasti tidak akan terjadi. Seharusnya aku sadar akan keadaanku yang memang tidak pantas untuk masuk Akmil.”

“Jangan bicara seperti itu, Hamid. Itu adalah cita-citamu. Jangan pernah menyerah mengejar cita-citamu!”

“Tapi sekarang cita-cita itu sudah tiada. Dan hanya akan menjadi kenangan saja.”

Lihat selengkapnya