Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #7

7.Giliran Wisnu Menjadi Sasaran

Hamid menghadapkan wajahnya ke tanah. Sepasang matanya secara tak sengaja menumpahkan setetes air ke aspal yang panas. Dan seketika aspal itu menjadi basah karenanya. Air mata yang tumpah semakin bertambah. Menjadikan aspal itu semakin basah dan membutuhkan waktu yang lama untuk mengering walau matahari memancarkan panasnya yang begitu terik. Seolah memang tak menginginkan air itu lenyap dari tubuhnya. Mengisyaratkan bahwa bumi di markas itu ingin menjadikan air mata Hamid sebagai tanda perpisahan untuknya.

Bersama air mata yang tak kunjung berhenti menetes itu, Hamid berusaha untuk menggerakkan kakinya yang terasa sulit sekali untuk meninggalkan markas yang selama ini telah menjadi tempatnya bertugas. Dengan hati yang berat, Hamid mulai melangkahkan kakinya untuk berbalik. Kemudian ia melangkahkannya lagi untuk mulai meninggalkan markas. Tetes-tetesan air matanya tak pernah berhenti jatuh ke aspal. Hingga membentuk sebuah garis lurus. Seolah menjadi pertama bahwa markas itu memang tak bisa kehilangan dirinya.

Air mata Hamid yang tak sengaja disaksikan oleh Wisnu membuatnya juga mengalirkan air mata. Bahkan air matanya lebih deras dari yang dialirkan oleh Hamid. Matanya yang terus menjatuhkan titik-titik air ke bumi tak pernah berhenti untuk menatap kepergian Hamid. Hatinya berkeinginan untuk mengejar langkah sahabatnya itu. Ia tak ingin sang sahabat semakin menjauh darinya. Ia hanya ingin sahabatnya itu terus berada di sisinya seperti yang terjadi di hari-hari sebelumnya.

Keadaan yang berbanding terbalik dengan Letnan Rudi. Dengan bangganya pria yang secara kasar mengusir Hamid beberapa menit yang lalu tertawa terbahak-bahak melihat langkah Hamid yang semakin lama semakin menjauh dari markas. Melihat sang komandan tertawa riang, beberapa prajurit yang berdiri di belakang Rudi turut tertawa.

Kedua Letnan Rudi masih setia untuk menatap kepergian Hamid. Tawanya juga masih setia mengiringi setiap langkah Hamid. Maka setelah Hamid tak terlihat oleh kedua matanya, tawa Rudi perlahan terhenti.

Setelah berhenti tertawa, Rudi berkata, “Akhirnya penghalang besar dalam hidupku sudah pergi. Setelah ini aku bisa lebih tenang meniti karierku.”

Letnan Rudi mengalihkan perhatiannya pada Wisnu yang kebetulan masih berdiri tegak di sampingnya. Kedua matanya tak pernah berhenti melotot pada Wisnu. Kepada prajurit yang pangkatnya sama dengan dirinya itu, ia berkata, “Dan kamu, Wisnu. Selama ini kamu sudah membantu Hamid untuk menutupi rahasianya, kan? Sejak kapan kamu membantunya?”

Jantung Wisnu seolah berhenti berdetak ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Letnan Rudi kepadanya. Secara bersama, air matanya juga berhenti menetes. Setelah Letnan Rudi bertanya padanya, hati Wisnu turut bertanya. Satu pertanyaan yang tak kalah penting dari pertanyaan yang diajukan Rudi. Darimana Rudi mengetahui rahasia yang selama ini disimpannya bersama Hamid. Dirinya baru mengenal Rudi beberapa tahun terakhir karena satu batalyon dengan prajurit tersebut. Sedangkan ia telah menyimpan rahasianya bersama Hamid sejak lulus Akmil.

Rudi menatap wajah Wisnu dengan penuh penantian akan jawaban yang ingin diberikan padanya. Sementara itu, Wisnu hanya mendudukkan kepala. Tak tahu apa yang akan dikatakannya pada Rudi untuk menjawab pertanyaan darinya.

Lihat selengkapnya