Air mata itu kembali hadir saat Hamid mengenang peristiwa menyedihkan tersebut. Hamid tak kuasa lagi untuk mengenang masa lalu yang sungguh pahit itu. Air matanya sudah terlalu banyak hingga membuat dadanya terasa sesak. Sebuah suara kecil pun muncul akibat dari tangisannya yang tak tertahankan tersebut.
Menyadari bahwa ia sudah mengeluarkan suaranya, Hamid segera menghentikan tangisannya. Ia tak ingin suaranya itu terdengar di telinga Zahra dan mengganggu tidur Zahra.
Hamid menolehkan kepalanya pada Zahra. Diperhatikannya sang istri yang masih tertidur dengan pulas seperti beberapa menit sebelumnya. Melihat keadaan sang istri yang demikian, hati Hamid merasa tenang. Setidaknya sang istri tak mengetahui air mata yang ia keluarkan.
Setelah menghapus air matanya, Hamid berusaha untuk memejamkannya. Kenangan pahit itu masih mengganggu pikiran Hamid. Membuat dirinya tak memiliki kemampuan untuk mengistirahatkan tubuhnya. Kenangan itu terus menghantui dirinya.
Hamid memutuskan untuk bangkit dari posisi tidurnya. Ia benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Setiap kali ia melakukannya, kenangan itu kembali memasuki kepalanya. Akhirnya ia hanya bisa duduk di tempat tidurnya dengan ditemani oleh bayangan tentang hari pemecatannya yang selalu datang menghampirinya.
Satu malam yang terasa begitu menyakitkan bagi Hamid. Hati Hamid terasa begitu perih karena setiap detiknya selalu teringat dengan peristiwa yang pahit tersebut. Dan semakin tersiksa lagi ketika satu malam itu terasa begitu panjang baginya.
Maka ketika malam itu telah berakhir, Hamid berusaha keras untuk membuat kegiatan hariannya tak terganggu oleh kesedihannya. Ia memang tak tahu jalan apa yang harus ditempuhnya setelah ini. Namun yang ia tahu pasti ada sebuah takdir untuknya. Sebuah takdir yang memang sengaja dipersiapkan oleh Tuhan untuk dirinya sehingga mengharuskan dirinya mengalami nasib yang malang dengan dipecat dari kesatuannya.
Hamid belum tahu takdir apa yang dipersiapkan Tuhan untuk dirinya setelah ini. Jika tentang mengasuh pondok pesantren, dirinya merasa tidak yakin. Sebab ia tak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Selain itu, ia juga tak punya bakat mengajar. Tapi ia juga tak memiliki kemampuan yang lain selain daripada menjadi seorang prajurit dan penghafal Al-qur’an semata.
“Andai saja dulu tidak ada wanita yang mencintaiku, pasti hal ini tidak akan terjadi,” ucap Hamid pada Zahra setelah mengantar Surya ke sekolah.
Konsentrasi Zahra terpecah saat Hamid berkeluh demikian. Ia pun menghentikan kegiatannya. Lalu ia menutup buku Surya yang digenggamnya.
Buku Surya masih berada dalam genggamannya. Sementara itu, kepala Zahra tertoleh pada Hamid yang telah duduk tepat di sampingnya dengan raut wajah yang lesu serta kepala yang tertunduk.
Kepala Hamid yang tertunduk menggambarkan betapa dalam kesedihan yang sedang dirasakan. Dan Zahra tentu saja mengerti akan hal tersebut. Maka agar sang suami tak merasa sedih lagi, Zahra menarik bibirnya untuk membentuk senyum di wajahnya. Lalu ia berkata, “Jangan berbicara seperti itu! Ini memang takdir supaya kamu bisa menjadi dirimu yang sesungguhnya.”
“Diriku yang sesungguhnya? Maksudnya apa, Kak? Jati diriku adalah menjadi seorang tentara. Dan sekarang aku sudah kehilangan jati diri itu. Sekarang bagaimana aku bisa hidup?”