Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #9

9.Langkah Awal Rahman

Suasana hati Salamah semakin memanas ketika Rahman secara tiba-tiba muncul di hadapannya dan mengganggu urusannya dengan Hamid. Ia melipat kedua tangannya dan diletakkan di dadanya. Sementara kedua matanya melotot pada Rahman. Tak rela ia jika sang suami mengganggu dirinya di saat dirinya tengah asyik memarahi Hamid.

“Ayo Nak Hamid, masuk sekarang saja!” ajak Ustaz Rahman.

“I-Iya, Abi,” jawab Hamid sedikit gugup.

“Maksud Abi apa? Kenapa Hamid malah disuruh masuk?” tanya Ustazah Salamah dengan ekspresi wajah geramnya.

“Tidak apa-apa, Ummi. Dia sudah datang dari jauh. Memang seharusnya kita menyambut kedatangannya.”

“Alah! Terserah Abi kalau begitu!”

Tapi kalau sudah selesai, langsung pulang! Kami merasa terganggu dengan kedatanganmu,” tambahnya dengan melototkan kedua matanya pada Hamid.

Hati Hamid bergetar ketika mendengar papa yang diucapkan Salamah padanya. Maka ia pun sedikit menundukkan kepalanya kemudian menjawab, “Iya, Ummi. Aku pasti akan langsung pulang. Ummi tidak perlu merasa khawatir.”

Setelah mendapatkan jawaban dari Hamid, Ustazah Salamah memalingkan wajahnya. Merasa muak dengan drama yang terjadi di antara Hamid dan suaminya membuat Salamah terpaksa harus mengalah. Ia pun lantas pergi dari ruang tamu tersebut dan memilih untuk fokus pada tugas mengajarnya.

Ustaz Rahman hanya menatap Ustazah Salamah dengan senyuman di wajah. Walau cara berjalan Salamah begitu cepat, namun ia tak terlalu memerdulikan apa yang dilakukan sang istri. Ia mengerti bahwa istrinya tak bisa menerima begitu saja keputusannya yang ingin menjadikan Hamid sebagai penerusnya. Dan ia percaya bahwa suatu hari nanti sang istri akan mengerti alasan mengapa dirinya merasa yakin bahwa Hamid adalah seorang pemuda yang sengaja dikirimkan Tuhan pada keluarganya untuk menjadi penerusnya.

Setelah Salamah tak lagi berada di ruang tamu, Rahman kembali mengalihkan perhatiannya pada Hamid. Senyumannya masih ia tunjukkan pada menantu kesayangannya itu. Senyuman yang ditunjukkan Rahman kepadanya mampu menghilangkan duka di hati Hamid.

Ustaz Rahman mempersilakan Hamid untuk duduk di sofa. Hamid hanya menganggukkan kepalanya kemudian melaksanakan apa yang diperintahkan Rahman kepadanya. Setelah Rahman, Hamid, juga Zahra duduk berhadapan di sofa, Rahman membuka pembicaraan dengan berkata, “Bagaimana, Nak? Apa kamu sudah mempertimbangkannya?”

“Hmmm ...." Hamid masih berpikir.

Hamid masih belum merasa yakin untuk menjawab pertanyaan dari Ustaz Rahman. Ia sendiri masih merasa berduka karena masalah pemecatan dirinya. Ia merasa belum memiliki waktu untuk memikirkan yang lainnya. Termasuk rencana masa depannya.

Lihat selengkapnya