Ustaz Rahman melangkahkan kaki dengan perlahan. Ia memulai langkahnya dari mushola. Kemudian ia melanjutkannya ke kelas-kelas. Sembari berjalan, ia beberapa kali menjumpai beberapa santrinya yang tengah menikmati waktu istirahatnya. Mengetahui bahwa dirinya sedang berjalan di depan kelas mereka, mereka pun berbondong-bondong untuk mencium tangannya. Rahman dengan senang hati memberikan tangannya pada santri-santrinya tersebut. Dan tangan kirinya dipergunakannya untuk mengusap kepala sang santri.
Ustaz Rahman tak ingin membiarkan momen seperti itu berlalu begitu saja. Ia menggunakan kesempatan itu untuk memperkenalkan Hamid pada santri-santrinya. Sikap Rahman yang demikian, membuat Hamid malu bukan kepalang. Berkali-kali dirinya harus menundukkan kepalanya agar santri-santri dari sang ayah mertua tak menanyakan terlalu banyak tentang dirinya.
“Abi, seharusnya Abi tidak perlu memperkenalkanku seperti ini. Aku malu, Bi,” keluh Hamid saat ia dan Ustaz Rahman tak lagi berada di sekeliling para santri.
Ustaz Rahman tersenyum lebar saat mendengar keluhan dari Hamid. Ia kemudian menanggapi keluhan tersebut dengan berkata, “Ya, tidak apa-apa. Supaya mereka mengenal sejak sekarang tentang sosok yang akan mengasuh mereka nanti.”
Hamid kembali menundukkan kepalanya setelah mendengarkan jawaban dari Ustaz Rahman. Senyum Ustaz Rahman kembali mengembang setelah memerhatikan ekspresi wajah yang ditunjukkan Hamid. Tak ingin hanya berdiri mematung di depan sebuah kelas, Rahman berkata, “Ya sudah, lebih baik kita berjalan lagi. Masih banyak yang ingin Abi tunjukan padamu.
“Baik, abi.”
Ustaz Rahman mengambil napas sejenak. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya. Ia berjalan ke arah depan. Melewati lapangan madrasah ibtidaiyah tersebut, ia berjalan menuju jenjang-jenjang di atasnya. Hamid menangkap bahwa hampir tak ada pembeda antara madrasah-madrasah yang yang ia kunjungi. Semua nampak indah dipandang mata.
Mata Hamid seolah tak ingin berkedip sejak awal ia melakukan perjalanan bersama Ustaz Rahman. Matanya yang sayu karena tak bisa tidur semalam kini terlihat begitu segar bagai seseorang yang baru selesai mandi pagi. Hatinya yang dirundung duka pun kini telah pulih seketika.
Namun ada hal yang membuat hatinya merasa sedikit tak senang. Di setiap kelas yang ia lewati, sang ayah mertua tak pernah berhenti bertemu dengan para santri. Dan tak pernah berhenti pula untuk memperkenalkan dirinya pada setiap santri yang ditemuinya.
“MasyaAllah ... Pesantren ini masih terlalu besar untukku. Walaupun aku sudah pernah mengelilinginya,” ucap Hamid sambil terus berfokus untuk memperhatikan sekitarnya.