Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #11

11. Hamid Masih Bingung

Berkeliling pesantren tak lantas membuat Hamid dapat dengan mudah menentukan keputusannya. Rasa bimbang masih setia menemaninya. Ustaz Rahman tak ingin memaksa Hamid untuk terburu-buru dalam mengambil keputusan. Ia membiarkan Hamid untuk memikirkannya dengan baik-baik. Ia tak ingin sang menantu gegabah untuk mengambil keputusan hanya karena dirinya yang tak sabar untuk mendapatkan jawaban.

Walau tak segera memberikan jawabannya, Ustaz Rahman sangat yakin bahwa Hamid adalah penerusnya. Dan untuk itu, ia tak perlu merasa khawatir akan jawaban yang akan diberikan Hamid kepadanya. Karena sang menantu pasti akan menerima tawaran darinya untuk menjadi penerusnya guna mengasuh pondok pesantren yang selama ini telah berada di bawah bimbingnya.

Dengan wajah yang ditekuk, Hamid memasuki kamar. Tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, ia langsung berjalan masuk dan duduk di ranjangnya. Tak berselang lama, Zahra dengan keringat yang telah mengucur di tubuhnya turut memasuki kamar tersebut.

Rasa lelah yang dirasakannya sejak beberapa menit yang lalu tiba-tiba menghilang setelah mengetahui keberadaan Hamid di dalam kamar tersebut. Mengetahui Hamid yang telah duduk tenang di dalam kamar, hati Zahra menjadi tak sabar untuk mendengarkan cerita dari sang suami. Tanpa menutup pintu kamar, ia langsung duduk di samping suaminya tersebut.

Tak ingin menghabiskan waktunya untuk berbasa-basi, Zahra langsung bertanya pada suaminya itu, “Bagaimana, Hamid? Apa kamu sudah tidak merasa bersedih lagi sekarang?”

Hamid menolehkan wajahnya pada Zahra. Lalu ia menjawab pertanyaan tersebut dengan nada yang lemah, “Ya. Aku merasa sedikit lebih tenang.”

“Lalu? Bagaimana keputusanmu?” tanya Zahra dengan raut wajah yang berseri.

Hamid memalingkan wajahnya dari Zahra kemudian menjawab, “Entahlah, Kak. Aku juga masih bingung.”

“Lo? Kenapa masih bingung? Kenapa kamu tidak terima saja tawaran dari Abi?”

“Mau terima bagaimana? Aku saja tidak punya kemampuan untuk melakukannya,” jawab Hamid dengan meninggikan suaranya.

“Terima saja, Hamid. Itu mudah, kok. Kamu tinggal ikuti saja bagaimana arahan dari Abi.”

Lihat selengkapnya