Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #12

12.Melanjutkan Perjuangan

Rahman mencoba untuk memaklumi apa yang dilakukan oleh istrinya sebagai reaksi atas apa yang dilakukannya. Ia memaklumi sikap sang istri yang demikian. Karena dirinya sungguh mengerti bahwa sang istri belum mengerti benar alasan mengapa dirinya memilih Hamid sebagai penerusnya.

Rahman menghela napas sejenak. Apapun yang dilakukan oleh sang istri, ia tak boleh menanggapinya dengan kemarahan. Ia juga harus mempertahankan tujuan awalnya untuk menjadikan Hamid sebagai penerusnya. Bagaimanapun tanggapan serta rencana sang istri untuk membuat impiannya menjadi gagal, ia harus tetap yakin bahwa Hamid pasti bisa menjadi penerusnya.

“Ya. Mungkin itu benar. Tapi yang sebenarnya menjadi masalahnya adalah aku,” ucap Ustaz Rahman dengan nada lirih.

Ustaz Rahman menghentikan bicaranya sebelum akhirnya kembali berkata, “Aku merasa tidak yakin kalau aku bisa melihat Surya tumbuh besar. Usiaku tidak memungkinkan untuk melakukannya.”

Kedua mata Ustazah Salamah melebar ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Ustaz Rahman kepadanya. Dengan kedua matanya yang masih melebar ia bertanya pada suaminya tersebut, “Abi ini ngomong apa? Jangan ngomong seperti itu! Umur seseorang tidak ada yang tahu.”

“Coba Abi pikirkan lagi! Pasti Abi akan mengakui kalau Surya lebih berpotensi untuk menjadi penerus Abi. Bukan Hamid,” tambahnya.

“Entahlah, Ummi. Tidak tahu kenapa hati Abi terus berpihak pada Hamid.”

Setelah menyelesaikan kata-katanya, Ustaz Rahman langsung membalikkan tubuhnya. Tanpa menolehkan wajahnya pada Ustazah Salamah, ia langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempatnya berdiri. Ia terus melangkahkan kakinya seolah tak menganggap keberadaan Salamah yang tabur saja menjadi teman bicaranya.

Dengan raut wajah kesal, Ustazah Salamah memperhatikan Ustaz Rahman yang terus berjalan tanpa henti. Hingga akhirnya sang suami memasuki rumah ia berkata pada dirinya sendiri, “Abi ini kenapa sih? Ada orang ngomong kok malah pergi.”

Tak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ustaz Rahman. Ustazah Salamah menyimpan pertanyaannya di dalam hatinya. Sikap Rahman yang secara tiba-tiba meninggalkan pembicaraan membuat rasa kesal di dalam hati Salamah semakin bertambah. Ia yang sudah muak dengan sikap sang suami yang terus mengharapkan Hamid untuk menjadi penerusnya cukup membuat dirinya merasa geram. Ditambah dengan usulannya yang ditolak begitu saja oleh suaminya membuatnya semakin geram dan ingin melakukan sesuatu pada suaminya tersebut.

Salamah memutar posisinya delapan puluh derajat dari tempatnya berdiri. Lalu ia mengarahkan perhatiannya ke arah gerbang. Dari jarak yang cukup jauh, kedua matanya masih dapat melihat dengan jelas bahwa tak ada seorang pun yang masuk pesantrennya melalui gerbang tersebut. Bibirnya tertarik sedikit hingga menciptakan sebuah keindahan di wajahnya ketika mengetahui kebenaran tersebut.

Lihat selengkapnya