Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #13

13.Rahman Tidak Sabar

Panas sinar matahari telah berkurang. Namun Ustaz Rahman tak juga berpindah dari tempatnya. Ia masih saja duduk di sofa ruang tamu. Dengan raut wajah yang semakin gelisah, ia tak pernah berhenti untuk menatap pintu. Hatinya masih berharap bahwa Hamid akan memasuki rumahnya melalui pintu tersebut.

Sesekali ia bangkit dan pergi ke luar untuk mencari keberadaan Hamid. Untuk melihat apakah Hamid sudah datang atau belum. Dan telah berulang kali ia tak menemukan jawaban. Maka ia pun kembali ke sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya. “Assalamu’alaikum ...”

Sebuah salam terdengar di telinga Ustaz Rahman hingga merasuk ke dalam hatinya. Senyuman yang telah memudar di wajahnya kini kembali lagi setelah mendengar salam tersebut. Karena ia tahu tentang siapa yang mengucapkan salam tersebut.

Ustaz Rahman bergegas bangkit dari tempat duduknya. Dengan wajah yang berseri, ia mengarahkan wajahnya ke arah suara. Walaupun usianya telah senja, namun telinganya tak pernah salah untuk mengenali suara. Suara itu memang suara milik menantunya yang sedang berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Hamid? Akhirnya kamu datang?” ucap Ustaz Rahman dengan wajah berseri.

Hamid membalas senyuman Ustaz Rahman tanpa mengucapkan kata apapun. Ustaz Rahman pun berkata lagi, “Bagaimana? Apa kamu sudah siap untuk mengajar hari ini?”

Begitu terkejutnya hati Hamid ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Ustaz Rahman kepadanya. Meskipun ia sudah menyangka akan apa yang terjadi, namun hatinya yang belum siap untuk menerima amanat dari sang mertua membuatnya tak bisa menerima amanat tersebut dengan hati yang rela.

Hamid menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menjawab dengan suara yang sedikit bergetar “Maaf Abi. Bukannya hari ini anak-anak sudah selesai belajarnya?”

Lihat selengkapnya