Maka setelah semua santri selesai memperkenalkan diri mereka, Ustaz Rahman menyuruh Hamid untuk menempatkan dirinya. Ia menyuruh menantunya itu untuk duduk tepat di samping Ustaz Hafid. Tubuh Hamid terasa kaku seketika saat mendengar perintah tersebut. Hatinya benar-benar belum siap untuk melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh Ustaz Rahman kepadanya.
Sementara itu, Ustaz Hafid malah melempar senyum padanya sambil mengayun-ayunkan tangan kanannya untuk memanggil Hamid. Dengan isyarat tangan tersebut, Rahman kembali menyuruh Hamid untuk duduk di samping Ustaz Hafid. Dengan isyarat tangan tersebut pula, ia meyakinkan hati menantunya untuk bersedia turut membantu Ustaz Hafid dalam membimbing anak-anak yang ingin menghafal Al-qur’an. Maka Hamid pun mencoba menghilangkan ketakutan dalam dirinya dan menuruti perintah dari sang ayah mertua.
Setelah Hamid menempatkan posisinya tepat di samping Ustaz Hafid, Ustaz Rahman pamit untuk meninggalkan tempat tersebut. Dengan keluarnya Ustaz Rahman, rasa deg-degan Hamid kembali lagi. Beberapa anak yang duduk dengan rapi di hadapannya menjadikannya semakin deg-degan saja.
Hamid memang merasa senang bisa bertemu dengan anak-anak. Namun alasan pertemuan itu mengubah suasana hatinya yang biasanya selalu ceria menjadi ketakutan yang luar biasa. Bahkan senyuman yang biasa terbentuk dengan sendirinya pun kini terbentuk secara terpaksa.
Seorang santri yang dari segi usia merupakan santri paling dewasa di antara para santri lainnya diperintahkan oleh Ustaz Hafid untuk membacakan hafalannya di depan Hamid. Maka Hamid pun mempersiapkan konsentrasinya untuk menyimak bacaan santri tersebut. Suara sang santri dalam mengaji bak sebuah obat baginya yang dapat menghilangkan rasa gugupnya dengan perlahan.
“Sudah sejak kapan kamu menghafal?” tanya Hamid usai menyimak bacaan seorang santri yang duduk di hadapannya.
“Baru sekitar satu minggu yang lalu, Pak,” jawab santri tersebut dengan sedikit takut.
“Baru sekitar satu minggu tapi hafalanmu sudah dua lembar?” tanya Hamid lagi.
Santri itu hanya tersenyum saat Hamid bertanya padanya. Hamid pun menambahkan, “MasyaAllah ... Cepat sekali kamu menghafal.”