Panas matahari terasa menyiksa. Bau menyengat akibat keringat yang keluar dari tubuh mulai tercium di hidung setiap insan. Wajah lesu melengkapi penderitaan siang hari itu. Mengetahui masalah tersebut, Ustaz Hafid tak ingin mengulur waktunya. Ia segera mengakhiri kegiatan mengaji siang hari itu agar anak-anak didiknya dapat langsung beristirahat.
Wajah anak-anak yang semula nampak lesu kini terlihat ceria setelah mengetahui bahwa waktu mengaji telah selesai. Setelah membaca do’a bersama dan mencium tangan Ustaz Hafid, mereka berbaris untuk keluar dari ruangan. Setelah langkah kaki mereka tiba di luar, mereka kemudian berlari hingga terdengar riuh di telinga akibat hentakan kaki mereka.
Ustaz Hafid hanya tersenyum melihat anak-anak didiknya yang berlari berbondong-bondong. Bahkan ada salah seorang santri yang hampir saja menabrak temannya karena terlalu kencang dalam berlari. Setelah semua anak keluar dari ruangan, ia mengajak Hamid untuk turut keluar. Setelah keduanya berada di luar, Hafiz menutup pintu dengan rapat. Kemudian ia merogoh saku celananya untuk mengambil sebuah kunci yang sebelumnya ia masukkan ke dalamnya. Setelah mendapat kuncinya, ia pun bergegas untuk mengunci pintu ruangan tersebut sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkannya.
Setelah mengunci pintu kelas tersebut, Ustaz Hafid menghadapkan wajahnya pada Hamid. Ia menunjukkan senyumannya pada orang yang berdiri di sisi kirinya itu. Kemudian ia berkata, “Terima kasih sudah membantu saya hari ini, Pak. Bantuan Anda sungguh berarti untuk saya.”
Hamid turut tersenyum mendengar apa yang diucapkan Ustaz Hafid kepadanya. Ia pun menanggapi, “Ah, tidak usah berterima kasih. Saya malah senang bisa bergabung di kelas tahfiz ini.”
“Oh ya, tolong jangan memanggil saya dengan sebutan itu! Saya merasa risih mendengarnya. Panggil dengan nama saja!” tambahnya.
“Ah, tidak, Pak. Saya merasa sungkan kalau harus memanggil dengan nama saja.”
“Tidak usah sungkan! Memang seharusnya begitu. Sepertinya kita memang seumuran.”
“Memang kita seumuran. Tapi Anda adalah menantu dari pengasuh pesantren ini. Bagaimana mungkin saya memanggil Anda dengan nama saja?”
“Kalau begitu, panggil saya dengan sebutan Mas saja! Dengan usia yang sama, memang seharusnya kita menjadi teman, kan? Bahkan mungkin bisa menjadi saudara.”
Kepala Ustaz Hafid tertunduk. Kedua matanya menatap lantai yang telah terlihat kotor karena pijakan sepatu dari para santri. Ia tak mempunyai kata apapun yang ingin diucapkannya untuk menjawab pertanyaan dari Hamid.
Karena Ustaz Hafid tak segera menjawab pertanyaan darinya, Hamid kembali mengulangi pertanyaannya. Karena sesungguhnya hatinya tak ingin ada jarak yang memisahkan di antara dirinya dan para penghuni pesantren. Baik itu dari kalangan santri maupun para gurunya. Sebaliknya, ia ingin merasa akrab dengan mereka layaknya sebuah keluarga. Dan mungkin Hafid adalah jalan pertamanya menuju tujuannya. Oleh sebab itu, ia tidak ingin melewatkan kesempatannya tersebut.