Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #16

16.Amarah yang Tak Pernah Berhenti

Dengan ekspresi wajah yang tak pernah berubah, Ustazah Salamah berdiri dengan tegaknya. Tatapan mata tajamnya juga tak pernah diubahnya menjadi lembut kala diarahkannya pada Hamid. Hamid pun hanya bisa menundukkan wajahnya ketika mengetahui bahwa yang baru saja mengeluarkan suaranya yang secara tak langsung juga mengganggu dirinya yang sedang minum adalah Ustazah Salamah. Ia tak memiliki niatan untuk membantah perkataan Ustazah Salamah karena memang ia menyadari bahwa dirinyalah yang bersalah.

Mengetahui bahwa Ustazah Salamah berada di dekatnya, Ustaz Rahman bangkit dari tempat duduknya. Ia tak ingin sang istri terus melampiaskan amarahnya pada Hamid yang menurut dirinya tak memiliki kesalahan apapun. Maka ia pun berjalan untuk menghampiri istrinya tersebut.

Begitu mendengar langkah kaki Ustaz Rahman, Salamah langkah memalingkan wajahnya. Kemarahan dalam hatinya membuatnya tak ingin melihat wajah suaminya. Ia telah menyangka bahwa suaminya itu pasti akan membela Hamid. Menantu yang paling disayanginya itu seolah sempurna di mata sang suami. Hingga suaminya tersebut selalu ingin membelanya dalam situasi apapun.

Tak membutuhkan waktu yang lama, langkah Ustaz Rahman telah sampai pada tujuannya. Setelah tiba satu langkah di samping Ustazah Salamah, Ustaz Rahman langsung bertanya, “Ummi ini kenapa sih? Kenapa marah-marah seperti itu?”

Tanpa menghadapkan wajahnya pada Ustaz Rahman, Ustazah Salamah menjawab pertanyaan sang suami dengan berkata, “Bagaimana aku tidak marah kalau punya menantu yang cuma bisa menyusahkan keluarga terus? Sampai kapan dia akan menyusahkan keluarga?”

“Menyusahkan keluarga? Menyusahkan bagaimana? Dia sudah berusaha melakukan tanggung jawabnya dengan baik.” Rahman mencoba untuk membantah.

Hati Salamah seketika merasa kesal dengan apa yang dikatakan sang suami. Walaupun dirinya telah menyangka bahwa suaminya akan membela Hamid, namun telinganya tetap merasa tak kuasa untuk mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya tersebut.

Menghadapi kata-kata sang suami yang menyakiti hatinya, Salamah terpaksa mengalihkan perhatiannya pada suaminya tersebut. Pada suaminya itu, ia berbalik bertanya, “Mana? Mana tanggung jawabnya? Sejak awal selalu saja menyusahkan Zahra.”

Kepala Hamid tertunduk semakin dalam. Rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Pertengkaran yang terjadi di depan matanya memanglah harus menjadikannya tersadar. Ia harus mengakui pada dirinya sendiri bahwa pertengkaran tersebut memanglah terjadi karena dirinya. Karena dirinya sekarang tak memiliki pekerjaan, ibu mertuanya tak bisa hidup dengan tenang. Kemarahan terus ditampakkan seketika dirinya datang.

Hamid menganggap sikap Ustazah Salamah adalah sesuatu yang wajar. Ialah yang harus merasa bersalah dalam masalah yang sedang terjadi. Jika saja ia masih aktif menjadi seorang prajurit, maka hati ibu mertuanya itu akan merasa damai seperti hari biasanya. Tak kan ia saksikan wajah sang ibu mertua yang seolah terbakar oleh api. Dan tak kan ia dengar kata-kata tajam bak sebuah belati dari mulut ibu mertuanya yang terkenal lembut tutur katanya di kalangan para santri.

Hamid tak dapat menahan rasa bersalah yang terus menghantui dirinya. Ia juga tak ingin kedua orang tuanya beradu mulut hanya karena dirinya. Maka ia pun memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Setelah kepalanya terangkat sedikit, mulutnya mulai digerakkannya untuk berkata, “Ya sudah, Abi, Ummi, aku pamit pulang dulu. Surya pasti sudah menungguku di rumah.”

Setelah mendengar suara dari Hamid, Salamah memalingkan wajahnya dari Rahman. Ia pun memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya pada Hamid. Begitu senangnya ia akan apa yang didengar oleh telinganya dari mulut Hamid. Ia pun berkata pada seorang menantu yang sebenarnya tak pernah dianggap sebagai menantunya tersebut, “Sudah sana cepat! Kalau perlu tidak usah ke rumah! Langsung cari pekerjaan!”

Lihat selengkapnya