Seperti roda mobilnya yang tak pernah berhenti untuk berjalan, pikiran Hamid juga tak pernah berhenti untuk terus mencari cara agar dirinya dapat memiliki pekerjaan yang biasa ia andalkan untuk memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Ia tak bisa hanya mengisi waktu luangnya untuk mengajar anak-anak mengaji. Seharusnya ia menggunakan waktu luangnya untuk bekerja. Karena memang itulah kewajibannya.
Memang mendengar ayat suci Al-qur’an membuat pikirannya dapat merasakan sedikit ketenangan dan masalah dalam hidupnya dapat ia lupakan sejenak. Tapi ia juga tak boleh menjadikan kegiatan tersebut sebagai alasan untuk meninggalkan tanggung jawabnya untuk menafkahi keluarganya.
Di bawah naungan langit yang panasnya sudah mulai berkurang, tercipta sebuah bayangan di kepala Hamid. Sebuah bayangan tentang Zahra yang selalu berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ia terbayang akan usaha istrinya yang tak pernah kurang. Semangat sang istri untuk bekerja membuat dirinya menjadi bangga. Namun di samping itu, ia juga merasa bersalah karena telah membiarkan istrinya berjuang seorang sendiri. Terlebih perusahaan itu seharusnya menjadi tanggung jawabnya Karena perusahaan itu merupakan peninggalan orang tuanya. Namun dalam kenyataannya, Zahra yang mengurusnya dan menjadikannya semakin berkembang.
“Apa aku belajar mengurus perusahaan saja ya? Apa sebaiknya aku membantu Kak Zahra mengurus perusahaan supaya Kak Zahra tidak terlalu capai. Aku merasa kasihan melihat Kak Zahra yang harus berjuang sendiri sementara aku tidak bisa berbuat apa-apa,” pikir Hamid.
Rasa tanggung jawab terhadap perusahaan peninggalan ayahnya tak kalah besar dengan rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga. Hamid berharap jika dirinya dapat membantu Zahra untuk mengurus perusahaan tersebut. Sehingga dirinya dapat menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga dengan baik. Jika perlu, Zahra berhenti untuk bekerja. Ia akan jauh lebih senang jika istrinya itu fokus pada pengasuhan dan pendidikan anak. Karena tanggung jawabnya tak hanya sekadar uang. Tapi juga masa depan anak-anaknya juga harus dipikirkannya.
Tekad Hamid untuk belajar berbisnis semakin menguat. Ia berharap dengan melakukan hal tersebut ia dapat memiliki penghasilan untuk menafkahi keluarganya. Dan mungkin itulah takdir yang ditunjukkan Tuhan padanya setelah kehilangan kariernya di dunia militer.
“Kak, apa ada yang bisa kubantu di kantor?” tanya Hamid pada Zahra yang telah nampak kelelahan di wajahnya.
Wajah lesu Zahra di malam yang telah larut itu menandakan bahwa pekerjaan di perusahaan memanglah berat dan melelahkan. Hati Hamid tergerak untuk meringankan beban istrinya tersebut. Dengan wajah lesunya itu, Zahra menolehkan wajahnya pada Hamid. Pertanyaan yang terdengar sayu di telinganya itu membuat wajah lesunya bercampur dengan rasa terkejut. Betapa tidak? Tiba-tiba saja ia mendengar pertanyaan yang tak pernah terbesit sedikitpun di pikirannya dari suaminya yang selama ia mengenalnya tak pernah menyukai dunia usaha.
Karena rasa terkejutnya itu, Zahra berbalik bertanya, “Maksudmu apa bertanya seperti itu?”
“Aku hanya ingin menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang suami,” jawab Hamid cepat.
“Selama ini kamu kan sudah bertanggung jawab kepada kami. Apa kamu masih merasa kalau kamu selama ini tidak menjalankan tanggung jawabmu kepada kami?” tanya Zahra lagi.
“Tapi belakangan ini aku kan tidak bekerja. Aku harus segera bekerja untuk menafkahi kalian.”
Zahra membuang napas pendek setelah mendengar jawaban Hamid yang demikian. Ia benar-benar memfokuskan pandangan matanya pada Hamid. Dengan senyuman yang tulus di wajahnya, ia berkata, “Memang sekarang kamu sedang ada musibah. Jadi sebaiknya kamu tenangkan pikiran kamu dulu. Jangan dulu memikirkan tentang pekerjaan!”