Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #18

18.Langkah yang Membingungkan

Dengan sisa tenaga yang masih ada, Hamid berusaha untuk bangkit dari duduknya. Ia lalu berjalan mengikuti langkah Ustaz Rahman. Lantunan ayat suci Al-qur’an menentramkan hati Hamid. Tapi tak bisa membuat dirinya melupakan masalahnya. Ia tetap saja teringat dengan satu permasalahan penting dalam hidupnya.

Betapapun merdunya suara para santri dalam membaca Al-qur’an, betapa pun indahnya ayat yang dibaca oleh mereka, semua itu seolah tak berarti apa-apa untuk Hamid. Kegelisahan dalam hatinya tetap saja tak berkurang. Karena baginya, mengajar para santri tak akan bisa menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi.

“Ini untukmu?” ucap Ustaz Rahman sambil menyodorkan selembar uang pada Hamid.

“Ini apa, Abi?” tanya Hamid ketika melihat Ustaz Rahman yang menyodorkan sejumlah uang kepadanya.

“Ini upahmu hari ini. Juga beberapa hari yang lalu. Semoga saja kamu menerimanya walaupun sedikit,” jawabnya.

Seketika kedua mata Hamid terbelalak mendengar jawaban dari Ustaz Rahman. Ia tak pernah menyangka bahwa apa yang diucapkan sang ayah mertua di hari yang lalu benar-benar diwujudkannya. Melihat kenyataan yang tak pernah ia bayangkan tersebut membuat Hamid enggan untuk mengeluarkan tangannya. Dengan menggoreskan senyum di wajahnya, ia menanggapi jawaban dari sang ayah mertua dengan berkata, “Oh tidak usah, Abi. Aku tidak perlu dibayar. Aku niat membantu Abi. Bukan bekerja untuk Abi.”

“Terima saja! Ini kan hasil keringatmu sendiri.”

Tangan Ustaz Rahman tak pernah bergerak untuk berpindah teman. Dan hatinya pun tak pernah berniat untuk mengembalikan sejumlah uang yang berada dalam genggamannya ke dalam sakunya. Senyuman yang ditunjukkan pada Hamid semakin lebar. Anggukan kepala menyertainya. Mengisyaratkan sebuah makna bahwa sang pengasuh pesantren itu menginginkan Hamid menerima uang tersebut.

Apa yang dilakukan oleh Ustaz Rahman membuat Hamid sedikit menundukkan kepalanya. Rasa sungkan mulai tumbuh di dalam hatinya. Pandangan matanya masih dapat melihat sejumlah uang yang berada dalam genggaman tangan Ustaz Rahman. Sikap Hamid yang terus menundukkan kepalanya membuat Ustaz Rahman memutuskan untuk menggerakkan tangannya agar lebih dekat dengan Hamid. Setelah tangannya dekat dengan Hamid, tangan kirinya turut bergerak untuk mengambil tangan kanan Hamid. Setelah berhasil mendapatkan tangan kanan Hamid, ia lalu memasukkan uang dalam tangan kanan menantunya tersebut.

Lihat selengkapnya