Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #19

19.Komandan Pengganti

Wajah Wisnu tertunduk dalam. Dirinya sungguh menyadari apa yang telah ia lakukan. Tak pernah ia sadari sebelumnya jika perbuatannya itu merupakan kesalahan yang besar. Ketika ia melakukannya, dirinya seperti orang yang sedang meminum alkohol. Setelah meminum satu teguk, ia belum merasa puas dan ingin terus meminumnya. Dan kini ia seperti orang yang sedang mabuk. Tak bisa tersadarkan akan perbuatannya jika bukan orang lain yang melakukannya.

Di sisi lain, Rudi tengah tertawa bahagia bersama sejumlah pasukannya. Bayangan tentang hari bahagia saat Wisnu terseret ke persidangan militer sudah tercipta di kepalanya. Dan saat hari itu tiba, tawanya pasti akan terasa semakin bahagia.

Tak pernah puas Rudi menertawai nasib Wisnu yang sebentar lagi berada dalam malapetaka besar. Rudi bahkan sempat membayangkan nasib hidupnya setelah Wisnu tiada. Ketidakhadiran Hamid dalam hidupnya sudah membuatnya bahagia. Tiada lagi orang yang selama ini menjadi beban pikirannya karena prestasinya yang selalu berada di atasnya. Sakit di telinganya juga akan hilang karena ia tak kan lagi mendengar suara orang-orang yang memuji nama Hamid.

Kini nikmat hidupnya bertambah karena dirinya telah membuat Wisnu mengaku bahwa ia memang telah membantu Hamid untuk menutupi rahasianya. Setelah ini pasti dirinya akan mendapatkan kenaikan pangkat. Maka kenikmatan apalagi yang kurang baginya?

“Akhirnya apa yang kutunggu-tunggu datang juga. Hamid sudah berhasil kusingkirkan dari hidupku. Hidupku pasti akan sangat bahagia setelah ini,” ucap Rudi dengan sebuah senyuman yang lebar di wajahnya.

Wisnu kembali tertawa. Tak lupa ia mengajak beberapa prajurit yang berdiri di samping kanan kirinya untuk turut tertawa bersamanya. Hingga suara dering telepon terdengar dan menghentikan tawa mereka tersebut. Setelah menghentikan tawanya, Rudi lalu mengambil ponsel yang ia simpan di dalam sakunya.

Sebuah berita datang menghapus senyum indah yang telah ia bentuk di wajahnya. Segera ia meninggalkan pasukannya guna memenuhi panggilan sang komandan untuk berkumpul. Beberapa pasukan yang sejak beberapa menit yang lalu turut berjalan bersamanya berpisah jalan dengannya untuk melakukan tugas yang lainnya.

“Ah sial! Kenapa harus berangkat berperang? Padahal kan aku mau melaporkan Si Wisnu,” ucap Rudi dengan penuh penyesalan.

Lihat selengkapnya