Kedua mata Wisnu terbelalak ketika mendengar pernyataan dari Letnan Bagus. Ia ingin kembali berdiri dan melangkah lebih jauh dari sang komandan. Namun komandannya tersebut sudah terlanjur memerintahkannya untuk duduk di sampingnya. Dan kini posisi dirinya pun telah sesuai dengan perintah dari komandannya tersebut.
Rasa terkejutnya bertambah ketika sang komandan menolehkan wajahnya padanya dan bertanya, “Wisnu, sebagai orang yang dekat dengan Kapten Hamid sejak di Akmil, apa kamu juga tidak tahu rahasia itu?”
Mulut Wisnu terkunci rapat. Ia merasa dilema harus menjawab apa. Ia merasa masih memiliki tanggung jawab untuk menjaga rahasia Hamid.
Saat dirinya tak kunjung menjawab pertanyaan dari Letnan Bagus, komandannya itu masih menatap wajahnya. Seolah sangat menginginkan jawaban darinya. Hal tersebut membuat Wisnu memutuskan untuk berkata jujur saja pada atasannya tersebut. Mengingat rahasia Hamid pun telah diketahui banyak orang sebelum Letnan Bagus bertanya padanya.
Wisnu menganggukkan kepalanya kecil lalu menjawab dengan perlahan, “Sebenarnya saya sudah tahu, Pak. Hanya saja saya merasa tidak tega kalau Kapten Hamid harus kehilangan cita-citanya sebagai tentara hanya karena rahasianya terbongkar.”
“Lagipula Kapten Hamid tidak bersalah sama sekali atas kasus itu. Kapten Hamid hanya ingin berbakti pada orang tuanya sehingga beliau terpaksa untuk menikah waktu itu. Karena itu, saya memutuskan untuk membantu beliau menutupi rahasia tersebut,” tambahnya
“Apa itu benar, Wisnu?”
Wisnu kembali menganggukkan kepalanya lalu menjawab, “Benar, Pak?”
“Sejak kapan kamu mengetahuinya?”
“Sejak pertama kali menjadi prajurit aktif, Pak. Kapten Hamid terpaksa memberitahukan rahasia itu pada saya karena istrinya membukakan pintu saat saya datang ke rumah beliau.”
“Lalu bagaimana dengan nasibmu selanjutnya, Wisnu? Kalau ada yang tahu tentang ini, kamu pasti ikut dihukum.”