Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #21

21.Pesan Wisnu

Di tengah heningnya malam sebuah suara terdengar di telinga Wisnu setelah sekian menit telinganya itu tak mendengar sesuatu karena malam terlalu sepi disebabkan semua temannya telah tertidur dengan lelap.

Wisnu segera menghentikan lamunannya untuk kemudian bergerak mencari sumber suara tersebut. Yang ternyata sumber suara tersebut berasal dari ponselnya. Tangannya bergegas untuk mengambil ponsel tersebut. Dan ketika dirinya mengetahui bahwa yang meneleponnya adalah Hamid, ia langsung menempelkan ponsel di tangannya itu di telinganya.

“Wisnu, apa kabarmu hari ini?” tanya Hamid setelah Wisnu menjawab teleponnya.

“Baik. Kamu sendiri bagaimana? Apa kamu sudah melupakan sedihmu?” jawab Wisnu sambil menampakkan senyum di wajahnya.

Kepala Hamid seketika tertunduk saat dirinya mendengar pertanyaan Wisnu yang demikian. Dengan kepala yang tertunduk, ia menjawab, “Sebenarnya aku tidak bisa melupakannya.

“Dan bagaimana aku bisa melupakannya, Wisnu? Itu adalah impianku sejak kecil,” tambahnya.

“Kamu harus bisa melupakannya, Hamid. Bagaimanapun keadaannya, kamu harus melanjutkan hidupmu. Kamu dipecat dari militer mungkin karena kamu memang ditakdirkan untuk pesantren itu.”

Hamid berusaha menerima apa yang dikatakan Wisnu kepadanya. Ia mencoba untuk menaikkan wajahnya setelah mendengarkan apa yang diucapkan Wisnu kepadanya. Tatapan matanya terhenti sejenak. Ia merasakan kejanggalan yang terjadi pada Wisnu. Ia tak melihat kepucatan dari wajah sahabatnya itu saat dirinya memulai video call dengannya. Namun sekarang, ia dapat melihatnya. Bahkan dengan jelas.

Hamid memfokuskan kedua matanya tersebut untuk memperhatikan wajah Wisnu dengan saksama untuk memastikan apakah wajah sahabat tercintanya itu benar-benar pucat atau apakah dirinya yang salah menilai karena rasa kantuk yang telah bertamu padanya. Dan setelah diperhatikan dengan saksama, wajah Wisnu memang benar-benar pucat. Hal tersebut membuat Hamid menjadi heran. Ia merasa bahwa dirinya harus segera beristirahat agar bisa melihat apapun di sekitarnya dengan benar. Wajah pucat yang ia dapati dari wajah Wisnu pastilah karena dirinya tak fokus untuk memperhatikan wajahnya. Ia merasa yakin sekali kalau wajah pucat yang didapatinya hanyalah karena dirinya sedang mengantuk sehingga kedua matanya tak bisa melihat dengan jelas.

“Wisnu, sebaiknya kita sudahi dulu bicaranya. Mataku sudah mengantuk sampai aku melihat wajahmu pucat sekali,” ucap Hamid.

“Wajahku pucat? Apa itu benar?” tanya Wisnu tak percaya.

Hamid menganggukkan kepalanya lalu menjawab, “Ya. Wajahmu terlihat pucat di mataku. Makanya, aku butuh istirahat sekarang.”

Lihat selengkapnya