Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #22

22.Mulai Berjuang

Di saat Hamid tengah terlena dengan proses pembentukannya untuk menjadi penerus Ustaz Rahman, beberapa pasukan termasuk kompi yang disertai Wisnu telah tiba di medan perang yang telah ditentukan. Sebuah medan dengan hutan yang sungguh lebat. Dari luar telah terasa menyeramkan. Membuat jantung setiap prajurit berdetak dengan begitu kencangnya.

Keadaan menyeramkan semacam itu memang telah didengar mereka sebelumnya. Generasi sebelum mereka pernah diterjunkan di tempat yang sama. Hutan yang menyeramkan juga pasukan musuh yang sulit untuk dikalahkan membuat tak sedikit dari mereka yang tak bisa pulang. Saat mendengar kisah semacam itu, hati mereka menjadi ketakutan. Tapi sekarang mereka harus merasakannya sendiri. Dan entah bagaimana nasib mereka setelah perang tersebut. Itu pun masih menjadi misteri. Mereka bahkan tak percaya pada diri mereka sendiri bahwa mereka bisa pulang dengan nyawa.

Namun setelah mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri, ketakutan semakin bertambah di hati mereka. Seolah dapat melihat kematian di depan mata. Bahkan Letnan Bagus pun turut merasakannya.

Hal yang berbeda malah dirasakan oleh Letnan Rudi. Hutan yang lebat bukanlah sebuah alasan bagi Rudi untuk merasa takut. Hatinya malah merasa senang karena ia mengetahui bahwa perang tersebut merupakan kesempatan bagi dirinya untuk membuktikan bahwa dirinya memang mampu melakukannya. Ia akan membuktikan pada seluruh pasukannya dan prajurit lainnya di kesatuannya bahwa dirinya mampu menaklukkan perang sehebat apapun. Seseram apapun medan yang sedang dihadapi, dirinya tak kan takut. Dan sekuat apapun musuhnya nanti, ia akan mampu mengalahkannya.

“Ini adalah kesempatanku untuk bisa membuktikan bahwa akulah yang terbaik. Aku tidak boleh kalah dengan Si Hamid,” ucap Rudi dengan wajah yang bersinar.

Sementara di lain sisi, tubuh Letnan Bagus terasa kaku. Kakinya mulai gemetaran. Hatinya merasa ragu untuk melanjutkan langkahnya ke dalam hutan. Nyawa satu kompi pasukan yang berbaris di belakangnya menjadi tanggungannya. Dan ia merasa tidak yakin apakah dapat melakukan tanggung jawabnya dengan baik atau tidak.

“Firasatku mulai tidak enak. Kalau medannya seseram ini, apakah aku bisa menjalankan tugasku dengan baik? Dan apakah pasukanku bisa pulang dengan selamat?”

Letnan Bagus sedikit menengadahkan wajahnya ke langit. Hatinya kembali berkata, “Aku pasrahkan hidup Hamba padamu, Ya Allah. Jika ini adalah tugas terakhir Hamba, maka Hamba rela. Asalkan Engkau jangan mengambil nyawa pasukan hamba.”

Lihat selengkapnya