Letnan Bagus dan para pasukannya telah berhasil membebaskan para sandera. Kini tugas mereka hanyalah melindungi para agar terhindar dari kejaran para musuh. Letnan Bagus tak pernah berhenti untuk menembaki setiap musuh yang terlihat oleh kedua matanya. Keadaan yang sama terjadi pada pasukan lainnya. Yang mana mereka berusaha menghalangi setiap musuh yang hendak mendekati mereka sambil menjaga konsentrasi mereka untuk memastikan para sandera yang berada di bawah perlindungan mereka baik-baik saja.
Saat musuh tak terlihat oleh matanya, Letnan Bagus mengalihkan sepasang matanya untuk memeriksa pasukan yang berdiri di sekitarnya. Terlihat oleh kedua matanya para pasukannya yang masih berjuang untuk melindungi warga masyarakat. Ada yang siap dengan senapannya. Bahkan ada pula yang berlari mencari tempat yang aman.
Hati Letnan Bagus senantiasa dipenuhi dengan kekhawatiran. Otaknya tak pernah berhenti untuk memikirkan nasib pasukannya yang tersebar di seluruh medan laga. Mungkin pada jarak beberapa meter dari dirinya, ia tak melihat ada satu pun pasukannya yang terluka. Tapi tidak tahu dengan pasukan lainnya yang berada pada jarak yang jauh darinya. Mungkin mereka ada yang terluka. Atau mungkin juga ada yang sudah meregang nyawa.
Setelah dirasa tak ada musuh yang menyerang dirinya, Letnan Bagus memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memeriksa para pasukannya. Ia berjalan mengendap-endap dengan senapan yang siap untuk ditembakkan. Sebentar ia mengumpat di balik semak. Kadang juga di balik pohon. Ia lakukan hal tersebut berulang kali hingga akhirnya menemukan salah seorang pasukannya yang tengah bersembunyi di balik semak yang cukup lebat. Sementara di belakangnya ada beberapa orang dengan raut wajah ketakutan tengah berusaha untuk menyembunyikan dirinya agar tidak terlihat oleh pasukan musuh.
“Kamu sendirian? Kamu tidak apa-apa?” tanya Letnan Bagus pada seorang prajurit yang tengah fokus membidik musuh.
Prajurit itu masih memfokuskan kedua matanya untuk membidik pasukan musuh. Walau begitu, ia masih dapat mengenal suara yang terdengar di telinganya. Maka setelah pelurunya mengenai musuh, ia menjawab pertanyaan dari sang komandan dengan berkata, “Tidak, Pak. Saya tidak apa-apa berjuang sendiri.”
Bagus membuang napas panjang setelah mendengar jawaban dari pasukannya tersebut. Kemudian ia berkata, “Syukurlah. Tetap fokus! Jangan sampai kamu tertembak musuh!”
“Siap, Pak,” jawab prajurit tersebut.
Letnan Bagus menepuk bahu seorang prajurit yang baru saja diajaknya berbicara. Lalu ia kembali pergi untuk memeriksa pasukannya yang lainnya. Tercipta sebuah senyum tipis di wajahnya ketika dirinya menyaksikan seorang pasukannya yang beberapa kali berhasil menembaki musuh. Ia memang tak merasa heran dengan kemampuan prajurit itu. Karena memang pangkat sang prajurit yang hanya satu tingkat lebih rendah dari dirinya. Walau begitu, ia tetap merasa senang menyaksikan keberhasilan dari salah seorang pasukannya tersebut.
Setelah merasa aman karena salah seorang pasukannya yang tak pernah berhenti menembaki musuh, Letnan Bagus mendekatkan tubuhnya pada pasukannya tersebut. Setelah berdekatan dengan prajuritnya tersebut, ia berkata di telinga sang prajurit, “Kamu! Tolong gantikan saya kalau saya tiada nanti!”
Prajurit yang baru saja melepaskan tembakannya terbelalak matanya ketika mendengar sebuah suara di dekatnya. Perhatiannya pun teralihkan pada seseorang yang baru saja mengajaknya berbicara tersebut. Dengan tetap menjaga kelirihan suaranya, prajurit itu menanggapi perkataan komandannya tersebut dengan berkata, “Maaf, saya tidak mengerti apa yang Bapak maksud? Kenapa Bapak berbicara seperti itu? Bapak harus tetap yakin kalau Bapak bisa memimpin kami dengan baik dan bisa pulang dengan selamat.”
Bagus mengangguk pelan lalu menjawab, “Itu memang harapanku. Tapi aku tidak yakin untuk itu. Aku ingin kalian semua selamat. Kalaupun aku harus mati, aku tidak apa. Asalkan kalian semua selamat.”