Hamid duduk termenung di atas sajadah yang baru saja digunakannya untuk melaksanakan salat magrib. Matanya menatap jauh ke arah jendela. Tatapan matanya kosong. Tak tahu mengapa mulutnya sulit untuk dibuka. Bahkan saat memuroja’ah hafalannya pun ia tak seperti tak memiliki kemampuan untuk mengucapkan huruf-hurufnya.
Hamid masih tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Hanya yang diingatnya beberapa menit yang lalu, ia mendapat berita bahwa beberapa pasukan dari Darma Putra yang diterjunkan ke Papua untuk misi pembebasan sandera. Dari pasukan tersebut satu kompi pasukan yang pernah dipimpinnya turut serta dalam misi tersebut. Sejak saat itu, dirinya tak memiliki berkonsentrasi untuk melakukan segala kegiatannya.
“Kudengar pasukanku ...,” ucap Hamid lirih.
“Eh maksudnya pasukan yang dulu pernah kupimpin berangkat perang hari ini. Bagaimana dengan mereka ya? Kudengar medannya sangat sulit,” ucapnya membenarkan.
Hamid menundukkan wajahnya. Kedua tangannya merapat untuk kemudian ditutupkan pada wajahnya. Matanya berkaca-kaca. Hatinya mulai merasakan sesuatu yang buruk. Maka kedua matanya itu pun ingin mengalirkan air mata.
“Semoga Allah melindungi kalian dan membuat kalian menang, pasukan yang pernah kupimpin,” ucap Hamid dengan nada berat.
“Dan semoga setelah ini hubungan kita tetap baik walaupun kita tidak menjadi satu kesatuan lagi,” tambahnya.
Kepala Hamid masih tertunduk. Berita yang telah dibacanya beberapa menit yang lalu masih menjadi sebuah hal yang menakutkan bagi dirinya. Dan kini ia merasa trauma karenanya. Hatinya semakin merasa tak tenang ketika mengingat berita tersebut.
Suara gesekan pintu mulai terdengar. Tapi tidak sampai di telinga Hamid. Perlahan Zahra mulai memasuki ruangan. Namun Hamid tak jua menyadari kehadirannya. Belum sempat menutup pintu, kedua mata Zahra telah tertuju pada Hamid yang tengah duduk merenung di dalam kamarnya dengan sebuah Al-qur’an masih terbuka di hadapannya.
Merasa heran dengan apa yang terjadi dengan Hamid, Zahra segera menutup pintu dan mendekat pada suaminya itu. Tangan Zahra diletakkannya di atas bahu Hamid. Kemudian ia berkata, “Ada apa, Hamid? Kenapa kamu terlihat gelisah seperti itu?”
Lamunan Hamid terhenti seketika saat sebuah pertanyaan terdengar di telinganya. Ia baru tersadar bahwa ternyata dirinya telah termenung selama beberapa waktu yang cukup lama. Bahkan Al-qur’an di hadapannya yang baru saja dibacanya satu ayat itu masih terbuka. Maka ketika mengetahui hal tersebut, ia langsung menggerakkan tangan kanannya untuk menutup Al-qur’an tersebut.
Selesai menutup Al-qur’annya, Hamid langsung menolehkan wajahnya ke arah di mana ia mendengar suara tersebut. Setelah mengetahui bahwa yang baru saja bertanya kepadanya adalah Zahra, ia memalingkan wajahnya dari istrinya tersebut. Lalu ia menundukkan kepalanya kembali.
Hamid lalu menjawab pertanyaan yang diajukan Zahra dengan berkata, “Kudengar hari ini pasukan yang dulu pernah kupimpin terjun ke medan perang, Kak. Dan firasatku tidak enak tentang mereka.”
“Aku takut jika mereka tewas dalam perang itu,” tambahnya.