Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #25

25. Meratapi Nasib

Kedua mata Wisnu tetap saja tertutup rapat walau Letnan Bagus telah meminta dirinya untuk membukanya. Melihat kenyataan yang demikian membuat tangisan yang semula berada di dalam hati Bagus berpindah ke wajahnya. Air matanya mengalir deras hingga jatuh ke loreng yang dikenakan Wisnu.

“Buka matamu, Wisnu!” Letnan Bagus menaikkan nada bicaranya.

Dengan air mata yang mengalir semakin deras, Letnan Bagus memukulkan tangannya ke tanah. Ia tak perlu lagi untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada Wisnu. Karena dirinya telah dapat menduga apa alasan yang menyebabkan kedua mata Wisnu tertutup dengan sempurna.

Sungguh menyesal dirinya harus mengetahui apa yang telah terjadi. Tanpa memerdulikan apakah di sekitarnya ada musuh yang mengintai atau tidak, ia pun berkata, “Ya Allah ... Dosa apa yang telah kubuat? Aku telah dengan egois menghilangkan nyawa salah satu pasukanku hanya untuk keselamatan nyawaku.”

“Yang lebih kusesali, dia memiliki keluarga yang harus ditanggung kebahagiaannya. Aku merasa kasihan dengan putrinya yang harus menjadi yatim di usianya yang masih sangat kecil,” tambahnya.

Letnan Bagus tak pernah berhenti untuk mengeluarkan air matanya. Tangannya juga tak pernah berhenti untuk memukul tanah di dekatnya. Sesekali ia menelan ludahnya karena sudah terlalu banyak air mata yang telah dikeluarkannya.

Setelah menelan ludahnya, Bagus berusaha untuk menguatkan tenggorokannya untuk dapat bersuara. Dan setelah dapat mengeluarkan suaranya, ia pun berkata, “Semoga Engkau masih mau mengampuni dosaku, Ya Allah.”

Pertarungan sengit sungguh tak ada ujungnya. Di sektor kanan pertarungan seorang prajurit tengah berjuang mati-matian untuk mengalahkan seorang prajurit dari pihak musuh dengan postur tubuh yang lebih besar dari dirinya. Raut wajahnya terlihat begitu menyeramkan. Sorot matanya tajam bak sebuah pisau belati yang akan ditancapkan pada tubuhnya.

Di sektor kiri juga terjadi hal yang serupa namun dengan jumlah pasukan musuh yang lebih banyak. Di sektor utara hanya terjadi baku tembak. Sementara di sektor selatan ada Letnan Bagus yang masih terpaku menyaksikan tubuh Wisnu yang telah tak bernyawa.

Layaknya seorang anak kecil yang baru saja terjatuh saat bermain, Letnan Bagus tak ingin menghentikan tangisannya. Ia memang benar-benar tak ingin menghentikan tangisannya. Dirinya sungguh merasa terjatuh saat itu. Baginya, kehilangan salah satu pasukannya adalah bukti bahwa dirinya tak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Walau waktu terus berjalan. Walau air mata yang dikeluarkannya sudah tak dapat dihitung berapa jumlahnya, Letnan Bagus tetap tak ingin menghentikan tangisannya. Ia tak peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya. Apakah ada sebuah peluru yang sedang menuju dirinya atau tidak. Atau hanya sekadar seorang prajurit yang sedang mengintai dirinya. Ia merasa sia-sia jika harus peduli akan semua hal tersebut. Karena dirinya sudah merasa gagal dalam menjaga pasukannya.

Seorang prajurit tengah berjalan mengendap-endap dengan sebuah senapan yang telah siap untuk melukai musuhnya. Dengan tingkat kejelian tertinggi yang dimiliknya, matanya tak pernah berhenti untuk mengamati sekitarnya. Sementara jari kecilnya hanya tinggal menekan pelatuknya jika diketahui ada seorang prajurit dari pihak musuh yang berada di sekitarnya.

Prajurit itu menghentikan langkah kakinya ketika dirinya mendapati seorang prajurit berada di hadapannya. Jari telunjuknya siap untuk menekan pelatuk. Sebuah senyuman penuh kepercayaan telah tergores di wajahnya.

Ketika telah merasa yakin untuk melepaskan pelurunya, prajurit itu seketika menghentikan niatnya. Kedua matanya terbelalak menyaksikan apa yang ada di depannya. Tangannya mulai gemetaran. Dengan tangan yang gemetaran itu, ia menarik jarinya dari pelatuk lalu menurunkan senapannya dengan perlahan.

Lihat selengkapnya