Firdaus mengangkat kepalanya. Dirinya baru tersadar akan apa yang baru saja diucapkannya. Niat hati tak ingin mengucapkan hal yang demikian pada sang komandan. Tetapi ucapan sang komandan membuat mulutnya kehilangan kendalinya. Sehingga kata-kata itu tak sengaja keluar dari mulutnya.
Dengan mulut yang bergetar, Firdaus ingin memperbaiki kesalahannya dalam berbicara dengan berkata, “Maaf, Pak. Saya hanya berbicara sepengetahuan saya saja.”
Letnan Bagus menganggukkan kepalanya mendengar pernyataan yang keluar dari mulut sang prajurit. Ia lalu menanggapinya dengan berkata,” Tidak apa-apa. Aku malah membutuhkan informasi itu.”
Firdaus kembali menundukkan kepalanya. Rasa bersalah kembali merasuk ke dalam hatinya. Mulutnya menjadi kaku karena dirinya tak pernah berbicara empat mata dengan seorang komandan barunya itu. Terlebih sang komandan yang memintanya untuk tidak berbicara dengan formal. Membuatnya semakin ingin membiarkan mulutnya dalam keadaan terbungkam.
Firdaus masih menundukkan kepalanya. Letnan Bagus masih menangisi kepergian Wisnu sambil berusaha untuk menghentikan aliran darah yang keluar dari tubuh salah satu pasukannya tersebut. Di sisi lain, Rudi menghela napas panjang. Tenaga dalam tubuh tersisa setelah bertarung cukup lama dengan beberapa orang dari pasukan musuh. Untunglah dirinya dapat mengalahkan mereka. Karena hampir saja dirinya kalah dan tewas oleh tangan kotor para pemberontak tersebut.
“Memang cukup sulit melawan mereka,” keluh Letnan Rudi setelah mengatur napasnya.
“Tapi tidak apa-apa. Aku tidak mau menyerah. Medan perang ini adalah pembuktian kalau aku lebih hebat dari Hamid,” lanjutnya.
Letnan Rudi mencoba untuk menegakkan tubuhnya setelah menyandarkannya pada sebuah pohon di belakangnya. Sedikit tenaga dirasa sudah kembali ke dalam tubuhnya. Ia pun menghadapkan tubuhnya ke kiri. Hendak melanjutkan langkahnya untuk mencari pasukan musuh.
Jantung Letnan Rudi hampir saja terlepas dari tempatnya ketika dirinya tak sengaja mendapati seorang dari pasukannya yang berdiri tegak dengan posisi tangan menghormat kepadanya. Setetes dua tetes keringat nampak jatuh dari pipinya setelah berlari kencang dan mengatur napasnya sejenak sebelum akhirnya menghormat kepadanya.
Letnan Rudi sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanggapan atas sikap hormat yang ditunjukkan salah seorang pasukannya kepada dirinya. Prajurit yang berdiri tegak di hadapannya itu pun menurunkan tangannya. Tak lama setelah itu, ia memaksa mulutnya agar dapat terbuka. Dan dari mulutnya keluar perkataan, “Lapor, Pak! Salah satu dari kita ada yang gugur.”
“Siapa?” tanya Letnan Rudi tegas.
“Siap, Pratu Danu.”
Letnan Rudi memalingkan wajahnya dari seorang prajurit yang sedang melapor kepadanya. Kemudian ia menanggapi laporan dari pasukannya tersebut dengan berkata, “Alah! Itu sudah biasa. Ada yang gugur dalam perang itu sudah biasa. Kenapa harus panik?”
Pernyataan Letnan Rudi membuat kedua mata prajurit itu terbuka dengan lebarnya. Dirinya tak pernah menyangka bahwa Letnan Rudi akan menanggapi laporan yang diberikannya dengan cara yang tak acuh. Ia tak pernah menduga bahwa sang komandan tak mengeluarkan ekspresi kemarahan atau sekadar keinginan hati untuk balas dendam setelah mendengar kematian dari salah seorang pasukannya.
Dengan penuh rasa kecewa, hati prajurit tersebut berkata, “Ha? Kenapa Pak Rudi seperti itu? Tidak seharusnya seorang komandan berkata seperti itu saat ada salah satu pasukannya sang tewas.”
Sementara prajurit tersebut masih menyimpan rasa kecewa di dalam hatinya, Letnan Rudi merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh dirinya yang hanya berdiri mematung di hadapannya. Rudi masih memalingkan wajahnya dari pasukannya tersebut lalu berkata dengan nada yang tinggi, “Sudah kamu pergi! Kenapa masih di sini? Musuh masih banyak. Kamu tidak bisa hanya diam di sini.”