Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #27

27.Ingin Membalas Dendam

“Dor! Dor!” Suara dentuman peluru memecahkan keheningan suasana. Pandangan matanya pun teralihkan seketika ke arah suara tersebut berasal. Tak hanya Letnan Rudi yang terkejut dengan adanya suara tersebut. Bagus pun merasakan hal yang sama. Bahkan salah seorang prajurit yang berdiri di sampingnya pun telah bersiap dengan senjatanya.

“Suara apa itu?” tanya Letnan Bagus.

“Itu sepertinya suara tembakan musuh, Pak?” jawab salah seorang pasukannya.

“Dan siapa yang menjerit tadi?” tanya Letnan Bagus lagi ketika telinganya tak sengaja mendengar sebuah jeritan dari seorang prajurit.

“Jangan-jangan itu orang kita,” tambahnya yang merasa khawatir jika memang suara jeritan tersebut berasal dari salah seorang pasukannya yang terkena tembakan musuh.

Firdaus terdiam mendengar pertanyaan dari Letnan Bagus. Seketika pertanyaan Letnan Bagus membuat dirinya berpikiran sama dengan komandannya tersebut. Dirinya menjadi teringat dengan beberapa rekan yang sempat ditinggalkannya beberapa waktu yang lalu karena dirinya sedang fokus untuk mengejar salah seorang pasukan musuh yang membuat hatinya menjadi geram. Mungkin teman-temannya ingin menyusul dirinya karena merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi padanya.

Teriakan yang juga sempat didengar oleh telinganya menciptakan rasa penyesalan di dalam hatinya. Ia mengakui bahwa dirinya memang keras kepalanya sehingga tak memikirkan apakah dirinya sanggup melawan musuh tersebut atau tidak. Karena musuh tersebut telah menimbulkan ketakutan yang luar biasa dalam hati setiap orang yang melihatnya. Ekspresi wajahnya yang menyeramkan serta perlakuannya terhadap lawan yang tak manusiawi membuat seluruh prajurit harus melakukan banyak pertimbangan sebelum melawan musuh tersebut. Namun hal tersebut tidak terjadi padanya yang keras kepala sehingga tak mengindahkan alasan tersebut untuk terus maju melawan musuh.

Perlahan Letnan Bagus bangkit dari duduknya. Matanya yang sembab karena menangisi kepergian Wisnu kini kering dengan dalam sekejap. Bahkan matanya yang kering itu menampakkan warna merah bak api yang membara.

Setelah berdiri, Letnan Bagus pun berkata, “Tidak ada gunanya aku terus menangis di sini. Lebih baik aku mengurus pasukanku yang lainnya.”

Sebelum pergi untuk memeriksa apa yang sedang terjadi beberapa meter dari tempatnya berdiri, Letnan Bagus mengarahkan pandangan matanya pada Firdaus. Kepada salah satu pasukan yang masih bersama dengan dirinya itu, ia berkata, “Kamu tolong jaga Wisnu di sini sambil mengamati musuh!”

“Aku akan pergi untuk mencari yang lainnya. Kalau bisa jangan ada lagi dari kita yang tiada,” tambahnya.

Lihat selengkapnya