Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #28

28.Akankah Kehilangan Lagi?

Letnan Bagus masih terus berjuang untuk mengalahkan musuh yang sedang dihadapinya. Begitu pun yang terjadi pada Firdaus yang masih setia menjaga Wisnu. Prajurit itu tak menyangka bahwa dirinya mendapatkan serangan yang mendadak. Dalam kepanikannya, ia berusaha keras untuk membalas serangan yang dilakukan oleh musuhnya tersebut. Bukan hanya satu musuh yang sedang beradu fisik dengan dirinya. Namun musuh tersebut membawa dua teman lainnya bersama dengan dirinya.

Meski merasa kuwalahan, Firdaus tetap berusaha untuk bisa mempertahankan dirinya dari serangan musuh. Ia berusaha dan tetap berusaha hingga tubuhnya menjadi lemah seolah semua tenaga dalam dirinya telah terkuras habis. Dalam keadaan yang lemah itu, seorang dari pihak musuh yang bertubuh kurus namun dengan perawakan yang tinggi langsung mencuri kesempatan untuk menancapkan belati andalannya ke perut Firdaus. Mendapat tusukan tersebut membuat tubuh prajurit yang sudah lemas itu menjadi semakin tak berdaya. Dan akhirnya menyebabkan dirinya jatuh tersungkur ke tanah.

“Ayo bangkit, prajurit! Tunjukkan kekuatanmu untuk membalas seranganku!” ucap seorang yang baru saja menancapkan belati miliknya ke perut prajurit tersebut.

Prajurit itu tak mampu menggunakan mulutnya untuk membalas ucapan salah seorang musuhnya tersebut. Wajahnya terlihat meringis menahan rasa sakit. Sementara tangan kanannya digunakan untuk menutup perutnya. Berharap agar darah yang keluar dari dalam perutnya berhenti mengalir.

Melihat prajurit tersebut yang meringis kesakitan membuat tawa ketiga musuh itu pecah seketika. Salah seorang di antaranya menghentikan tawanya lalu berkata, “Sudahlah, prajurit! Kalau tidak bisa bangun jangan dipaksakan! Susul saja temanmu yang sudah mati itu!”

Ketiga musuh itu kembali tertawa. Seorang bertubuh paling kekar dari ketiganya mengajak kedua rekannya untuk pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia pun memulai langkahnya. Sebelum pergi, seorang bertubuh kurus itu berjalan mendekati sang prajurit. Ia tatap wajah prajurit itu sejenak. Lalu tangan kanannya mengambil belati yang masih di perut prajurit itu dengan paksa sehingga menciptakan rasa sakit yang luar biasa dan menambah siksa bagi prajurit tersebut.

“Aaargh!” teriak prajurit itu kesakitan.

Teriakan Firdaus menambah keras tawa dari pihak musuh. Sementara Firdaus semakin lemah dan merasa tak mampu lagi untuk bangkit. Berkali-kali ia membuka dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit yang sedang dideritanya.

Firdaus menolehkan wajahnya pada tubuh Wisnu yang terbaring tak jauh darinya. Dengan menguatkan suaranya, ia mulai berkata, “Aku sudah tidak tahan lagi.”

“Tolong maafkan saya Pak Bagus kalau sampai saya tiada dan tidak bisa menjaga Wisnu,” tambahnya.

Firdaus membuang napas panjang. Dengan perlahan, ia melepaskan tangan yang diletakannya di atas perutnya. Diangkatnya tangannya tersebut hingga terlihat darah segar pada kedua matanya. Merasa tak kuasa untuk melihat darahnya sendiri, ia pun menurunkannya dengan segera.

“Ternyata kamu orangnya yang sudah membunuh pasukanku? Sekarang kamu apakan pasukanku yang lainnya?” ucap Letnan Bagus sambil berdiri tegak di hadapan ketiga musuhnya.

Lihat selengkapnya