Seorang prajurit bertubuh kurus nan berkulit gelap tiba-tiba berhenti di hadapan Firdaus. Wajahnya terlihat cemas. Bahkan air mata hampir saja keluar dari pelupuk matanya. Prajurit itu lalu duduk di samping tubuh Firdaus yang masih terbaring. Setetes dua tetes air mata mulai keluar dan jatuh ke bumi.
“Aku hampir mati tadi.” Firdaus menjawab pertanyaan prajurit tersebut dengan nada yang lemah.
“Apa? Tapi Abang tidak apa-apa, kan?” tanya prajurit itu dengan kedua mata yang melebar.
Firdaus menelan ludahnya. Lalu ia menjawab, “Sekarang sudah lebih baik karena diselamatkan komandan kita.”
Mendengar penjelasan tersebut, prajurit itu mengalihkan perhatiannya pada Letnan Bagus. Dengan air mata yang mengalir semakin deras, prajurit itu berkata pada Bagus, “Terima kasih sudah menyelamatkan dia, Pak. Dia sudah kuanggap sebagai kakak saya sendiri. Saya tidak tahu bagaimana jika dia sampai tiada. Pasti saya juga akan merasa mati.”
Bagus tersenyum menanggapi ucapan terima kasih dari prajurit tersebut ia pun menjawab, “Kamu tidak usah berterima kasih pada saya! Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai komandan kalian.”.
Letnan Bagus menundukkan kepalanya lalu melanjutkan perkataannya, “Dan mungkin ini adalah takdir kalian agar bisa terus bersama.”
Prajurit itu mengangguk mendengar perkataan Letnan Bagus. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Firdaus. Air matanya mulai tak terkendali saat memperhatikan tubuh Firdaus yang terbaring semakin lemah.
“Jangan pernah tinggalkan aku, Bang. Abang sudah berjanji kalau kita akan berjuang bersama-sama sampai akhir.” Ucapnya penuh harap
Firdaus nampak memejamkan matanya sejenak sebelum ia membalas ucapan temannya dengan berkata, “Ya. Itu harapanku. Kamu juga jangan pernah tinggalkan aku.”
Air mata sang prajurit tak mau berhenti mengalir. Bahkan air matanya mengalir semakin deras melihat keadaan Firdaus yang terkapar di pangkuan sang komandan. Hatinya merasa ketakutan seolah melihat hantu di depan matanya. Seolah merasa yakin bahwa dirinya akan kehilangan Firdaus.
Dengan menahan rasa sakit yang sedang dideritanya, Firdaus mencoba untuk menunjukkan senyum di wajahnya pada prajurit yang duduk di sampingnya. Walau telah menunjukkan senyum di bibirnya, prajurit itu tetap saja tak mau menghentikan air matanya. Matanya tak kuasa untuk menyaksikan keadaan Firdaus yang demikian.
Letnan Bagus tak ingin menghiraukan air mata salah seorang prajuritnya. Firasat di hatinya membenarkan apa yang sedang dirasakan oleh salah seorang prajuritnya tersebut. Wajah pucat Firdaus serta matanya yang seolah tak ingin terbuka mengisyaratkan sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada Firdaus.
Hati Letnan Bagus mulai menangis menyaksikan apa yang sedang terjadi di hadapannya. Untuk kedua kalinya matanya disuguhkan dengan pemandangan yang tak menyedapkan mata. Sebuah pemandangan yang tak pernah diinginkan oleh hatinya.