Seorang prajurit yang berada di sampingnya baru saja menyadari bahwa para pemberontak itu telah habis ditembaki oleh Firdaus. Tak tertinggal pula dengan komandannya. Kedua mata prajurit itu melebar. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan perlahan, ia turunkan senapan dalam genggamannya. Kemudian dengan perlahan pula ia menolehkan wajahnya ke arah Firdaus.
Kedua matanya bertambah melebar setelah melihat Firdaus dalam keadaan tubuh yang bersandarkan semak belukar dengan kedua mata yang hampir tertutup serta tak terlihat tanda-tanda bernapas. Prajurit itu pun mendekatkan dirinya pada Firdaus karena rasa cemasnya.
“Ya ampun, Bang. Abang kenapa?” tanya prajurit itu penuh kecemasan.
Karena tak ada jawaban yang keluar dari mulut Firdaus, maka prajurit itu pun menggoyang-goyangkan tubuh rekannya tersebut. Lalu ia kembali berkata, “Bang, bangun Bang! Bertahanlah sebentar lagi! Abang sudah membunuh komandannya, kan? Sebentar lagi kita pulang, Bang. Bertahanlah, Bang!”
Meski sulit untuk membuka kedua matanya, Firdaus tetap dapat mendengar sayup-sayup suara yang mengajaknya berbicara. Firdaus mulai mengatur napasnya. Tanpa menolehkan wajahnya pada temannya, ia berkata, “Apa benar tidak ada musuh yang mendekat kita lagi.
Prajurit itu menganggukkan kepalanya lalu menjawab, “Iya, Bang. Abang sudah berhasil membunuh mereka.”
“Jangan senang dulu! Coba teliti lagi! Mungkin masih ada musuh yang mendekat.”
Prajurit itu menelan ludahnya untuk menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya. Setelah itu ia menanggapi perkataan Firdaus dengan berkata, “Aku tidak tahu apakah di tempat lainnya juga ada musuh lagi. Tapi yang terpenting di sini sudah tidak ada.”
“Ayo kita pulang! Musuh sudah kita kalahkan!” ucap Letnan Bagus yang tiba-tiba datang dengan raut wajah yang sumringah.
Kedatangan Letnan Bagus menciptakan rasa terkejut di hati Firdaus. Juga salah satu rekan yang baru saja berjuang bersamanya. Mereka yang sama-sama tak mengerti dengan alasan mengapa Letnan Bagus berkata demikian secara serempak menolehkan wajah mereka pada sang komandan.
Tanpa menolehkan wajahnya pada kedua prajurit di sampingnya, Letnan Bagus melanjutkan perkataannya, “Kamu! Angkat tubuh Wisnu! Aku akan membantu Firdaus berjalan. Kita pergi ke pesawat bersama-sama!”