Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #31

31.Bagaimana Jika Hamid Mendengarnya?


Bagaikan terkena tembakan saat tengah berjalan santai di tengah hutan. Begitulah kiranya yang dirasakan oleh prajurit itu saat mendengar tanggapan dari sang komandan atas apa yang baru saja dilaporkannya. Hati kecilnya pun berkata, “Ha? Kenapa tanggapan Letnan Rudi seperti itu? Apa beliau sudah tidak peduli lagi dengan kami?”

Tak ingin merasa terganggu dengan kehadiran pasukannya, Letnan Rudi memerintahkan pasukannya tersebut untuk menjauh darinya. Dengan masih menyimpan rasa tak percaya di dalam hatinya, prajurit itu menuruti perintah dari sang komandan. Tak lama setelah perintah itu diturunkan kepadanya, ia bergegas untuk menjauh dari pandangan sang komandan.

Letnan Rudi memalingkan wajahnya dari seorang prajurit yang berdiri di hadapannya. Dengan tubuh yang lemah, prajurit itu pergi untuk menghindari dari Letnan Rudi. Ia mengarahkan dirinya untuk pergi mendekati Letnan Bagus yang sempat dilihatnya secara sekilas sedang memangku salah seorang prajurit. Dimana prajurit itu tampak meringis kesakitan. Sementara di sampingnya terdapat salah seorang prajurit lagi yang tengah dipangku oleh prajurit lainnya. Dan sepertinya prajurit tersebut sudah tak bernyawa lagi.

Setelah tiba di hadapan Letnan Bagus, kedua matanya fokus menatap Wisnu. Kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada seorang prajurit yang berada di pangkuan Letnan Bagus. Yang mana telah ia ketahui bahwa prajurit tersebut bernama Firdaus. Melihat keadaan Firdaus yang tak pernah berhenti untuk menahan rasa sakitnya, hatinya pun berkata, “Kasihan sekali Firdaus. Sampai kesakitan seperti itu.”

Hati sang prajurit tak kuasa untuk terus menjaga perhatiannya dari Firdaus. Ia pun mengalihkan perhatiannya pada Letnan Bagus. Diperhatikannya kedua mata Letnan Bagus yang nampak sembab. Seperti air matanya akan jatuh.

Prajurit itu memberanikan diri untuk bertanya pada Letnan Bagus, “Izin bertanya, Letnan. Kalau saya diperbolehkan, saya ingin tahu berapa pasukan Letnan yang gugur.”

Bagus menolehkan wajahnya pada seseorang yang tengah bertanya padanya. Tanpa memperdulikan bahwa prajurit itu bukanlah bagian dari kompinya, dirinya menjawab, “Hanya Wisnu.”

“Hanya Letnan Wisnu?” tanya prajurit itu seolah tak percaya.

Letnan Bagus menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas apa yang dipertanyakan oleh prajurit itu padanya. Prajurit itu pun bertanya kembali, “Tapi kenapa Letnan seperti menangis? Bukankah seharusnya Letnan bersyukur karena hanya satu dari pasukan Letnan yang gugur?”

“Walaupun hanya satu, itu sudah cukup membuktikan kalau saya adalah komandan yang tidak becus.”

“Lagipula penyebab kematian Wisnu adalah karena dia menyelamatkan nyawa saya. Karena itu saya sangat menyesal. Kenapa tidak saya saja yang mati?” tambahnya.

Lihat selengkapnya