Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #32

32.Memberitahu pada Hamid

Rudi membuang napasnya panjang. Dengan perlahan ia menutup kedua matanya. Telinganya diperintahkan otaknya untuk mengabaikan segala jenis suara yang didengarnya dari sekitarnya. Hal itu berlaku pula untuk suara tangisan pasukannya yang tengah asyik menangisi para rekannya yang telah tiada. Yang ia perintahkan pada otaknya itu hanyalah beristirahat agar dapat membuka jalan bagi mimpi untuk datang menemani dirinya yang sedang menunggu kapan pesawat akan tiba di tempat tujuan.

Berkat mimpi yang datang menemani dirinya, Letnan Rudi merasa perjalanan pulangnya begitu singkat. Rasa senang dalam hatinya membuatnya melangkahkan kakinya begitu cepat saat turun dari pesawat. Begitu cepat pula langkahnya menuju tank yang akan membantu dirinya melanjutkan perjalanan menuju markas.

Perjalanan yang sangat singkat dirasakan oleh Letnan Rudi itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Letnan Bagus. Ia dan para prajuritnya harus bersabar menunggu sambil berharap bahwa pesawat akan tiba lebih cepat dari perkiraan. Mereka berharap sambil menatap tubuh Firdaus dengan hari yang dipenuhi dengan rasa iba. Berharap agar mereka dapat segera mengobati luka salah seorang rekannya itu dengan membawanya ke rumah sakit sehingga nyawa rekannya itu dapat terselamatkan dan mereka bisa kembali menikmati waktu mereka bersama.

Setelah tiba di markas, Bagus memerintahkan beberapa pasukannya untuk segera membawa Firdaus ke rumah sakit. Hatinya merasa sedikit lega setelah perjalanan panjangnya terlewatkan. Kini dirinya hanya tinggal melanjutkan do’a dalam hatinya supaya Firdaus dapat diselamatkan. Begitu juga yang dilakukan oleh pasukannya terutama sang sahabat yang telah lama menjalin hubungan hingga menjadi seperti saudara dengan Firdaus.

Di saat Letnan Bagus dan pasukannya tengah berdo’a untuk keselamatan nyawa Firdaus, Letnan Rudi membaringkan tubuhnya di ranjang. Sambil berbaring, ia memainkan ponselnya. Lalu ponsel itu ia gunakan untuk mencari nomor Hamid. Suatu pekerjaan yang tak boleh ia lupakan untuk dilakukan. Oleh sebab itu, ia selalu mengingatnya selama di pesawat.

“Apa kabar, Kapten Hamid?” tanya Letnan Rudi setelah Hamid mengangkat telepon darinya.

“Upss!! Maaf, maksudku, Hamid,” ucap Rudi segera membenarkan ucapannya.

“Siap, kabar saya baik, Letnan,” jawab Hamid.

Berbunga hati Letnan Rudi saat mendengar jawaban yang diberikan Hamid kepadanya. Rasa bahagia dalam hatinya seperti prajurit yang baru saja mendapatkan bintang sakti. Baru pertama kalinya Hamid merasa rendah di hadapan dirinya. Itu merupakan sesuatu yang diinginkannya sejak dulu.

“Oh ya, aku lupa sesuatu. Apa kamu sudah dengar kabar tentang kematian Wisnu saat perang kemarin?” lanjut Letnan Rudi.

“Apa? Wisnu gugur?” tanya Hamid dengan kedua mata yang melebar.

Lihat selengkapnya