Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #33

33.Bagaimana Hidup Tanpanya?

Jantung Bagus seolah berhenti berdetak seketika saat mendengar pertanyaan yang Hamid ajukan kepadanya. Mulutnya membungkam. Otaknya belum memberi perintah kepadanya tentang apa yang harus dilakukannya.

 Dirinya sudah berniat untuk menyembunyikan kabar tentang kematian Wisnu dari Hamid. Namun saat tengah berusaha untuk melakukannya, mengapa Hamid malah bertanya kepadanya terlebih dahulu? Kini dirinya memang benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakannya pada seorang yang beberapa waktu yang lalu masih menjadi komandan pasukannya.

“Harus saya katakan dengan jujur, Kapten. Kalau itu memang benar. Dan dia gugur karena menyelamatkan nyawa saya. Kalau saja dia tidak melakukannya, maka hari ini Kapten tidak bisa mendengar suara saya.” Letnan Bagus terpaksa menjawab pertanyaan Hamid dengan kebenaran yang ada.

“Dan sekarang, saya sedang berdo’a untuk kesembuhan anggota kita yang lainnya. Sewaktu perjalanan pulang, dia seperti sudah tidak kuat lagi untuk bernapas,” tambahnya.

“Siapa dia?” tanya Hamid dengan perasaan penuh kecemasan.

“Dia ....”

 “Firdaus, Kapten.”

 “Apa? Firdaus?”

Kepala Letnan Bagus tertunduk dalam layaknya seorang yang sedang berdo’a. Hatinya benar-benar merasa belum siap untuk memberitahukan apa saja yang terjadi di medan perang yang baru saja ia tinggalkan. Ia sebenarnya sudah berniat untuk melaporkan kejadian apa saja yang dialaminya di saat berjuang di medan laga kepada Hamid. Karena memang itu adalah perang pertamanya tanpa Hamid. Jika hasil dari perang itu memang menyenangkan.

Namun dalam kenyataannya, apa saja yang terjadi di medang perang itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Meskipun mendapatkan kemenangan, hatinya tetap saja tak merasa senang. Kenangan tentang kematian Wisnu masih menyiksa batinnya. Terlebih saat menuju perjalanan pulang, Firdaus sudah menunjukkan tanda-tanda yang selalu membuat hatinya merasa gelisah. Dan saat melihatnya hatinya tak pernah berhenti untuk berdo’a. Memohon pada Yang Maha Kuasa bahwa tanda-tanda tersebut bukanlah berarti kesedihan yang akan datang menyapa mereka. Melainkan hanyalah hal yang wajar dimana sebagian besar orang mengalami saat baru saja terluka.

“Benar, Kapten. Firdaus sempat tertembak oleh musuh saat saya menyuruh dia untuk menjaga Wisnu yang saat itu sudah tertembak pasukan musuh terlebih dahulu.” Letnan Bagus menjawab dengan nada yang lirih.

“Apa? Lalu bagaimana keadaannya saat ini?” tanya Hamid dengan perasaan penuh kecemasan.

Lihat selengkapnya