Hamid menggunakan kedua tangannya untuk menghapus air mata yang membuat pipinya menjadi basah. Tak cukup dengan tangan kanannya, Hamid memerintahkan tangan kirinya untuk membantu tangan kanannya menghapus air mata di pipinya tersebut. Walaupun telah berusaha untuk dihapusnya, air mata itu tetap saja mengalir. Bayangan tentang Wisnu menjadi penyebabnya. Tak disangkanya, baru saja ia berpisah dengan Wisnu karena dirinya harus meninggalkan dunia militernya, kini ia harus kembali berpisah dengan Wisnu dengan alasan yang terbalik. Wisnu harus meninggalkan kehidupan dunia.
“Kamu kenapa? Kenapa kamu menangis?”
Suara Zahra menghentikan lamunan Hamid. Cepat-cepat Hamid menghapus air matanya. Ia menundukkan kepalanya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Zahra dengan berkata, “Perang kemarin...”
“Perang kemarin sudah memisahkan aku dengan Wisnu,” Hamid menguatkan hatinya untuk melanjutkan perkataannya.
“Maksudmu apa?” tanya Zahra tak mengerti.
“Wisnu gugur, Kak.*”
“Dia gugur? Innalillahi ....”
Kedua mata Zahra melebar ketika mendengar kabar kematian Wisnu dari Hamid. Hamid hanya menganggukkan kepalanya untuk meyakinkan Zahra terhadap apa yang baru saja dikatakannya. Air mata yang baru saja dihapusnya kini kembali mengalir. Wajah dan senyuman Wisnu untuk dirinya tak bisa ia lupakan. Begitu pula dengan semua nasihat yang diberikan kepada dirinya saat dirinya menceritakan semua masalahnya kepada sahabatnya tersebut.
“Sudahlah, jangan menyesali kematian Wisnu! Itu sudah menjadi takdirnya. Do’akan saja yang terbaik untuknya,” ucap Zahra yang sambil berusaha untuk menahan air matanya agar tak lepas dari tempatnya.
“Kakak tidak mengerti sedekat apa hubunganku dengan Wisnu. Aku tidak bisa hidup tanyanya, Kak,” bantah Hamid dengan tanpa menolehkan wajahnya pada Zahra.
Zahra menganggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk menunjukkan senyumannya pada Hamid kemudian berkata, “Iya, aku mengerti kalau kalian itu sangat dekat seperti saudara. Tapi kita tetap tidak boleh meratapi kepergiannya seperti ini. Mungkin tugasnya di dunia memang sudah selesai. Makanya dia dipanggil pulang.”
Pernyataan yang dikeluarkan Zahra bak kata-kata ajaib. Dimana kata-kata itu mampu menghentikan aliran air mata yang selama beberapa menit membasahi pipi Hamid. Kalimat Zahra mengingatkannya akan dasar dari kehidupan dunia ini yang beberapa tahun lalu pernah ia pahami dari istri jua.
Hamid mengerti benar bahwa manusia dan makhluk apapun di dunia ini dapat menjalani kehidupan karena Tuhan yang menciptakannya. Mereka hidup selama kurun waktu tertentu karena Tuhan yang memerintahkannya. Dan Tuhan tak kan memberi mereka kehidupan kecuali untuk mengemban sebuah tugas. Ia juga paham dengan apa yang terjadi pada Wisnu. Yang mana Wisnu telah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Maka saat inilah waktu bagi sahabatnya itu untuk pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Dengan tangisan di wajahnya, ia memberikan pertanda bahwa ia tak rela untuk memberi sahabat tercintanya itu waktu untuk beristirahat. Padahal seharusnya dirinya menjadi orang pertama yang merasa senang dengan kembalinya Wisnu pada Tuhan.
Walaupun telah mengetahui kebenarannya, hati Hamid tetap saja merasa hancur setelah mendengar kematian Wisnu. Ia benar-benar belum merasa siap untuk berpisah dengan sahabat tercintanya tersebut. Bahkan ia mungkin tak kan pernah siap untuk berpisah dengan seorang sahabat yang dengan tulus memberikan tempat ternyaman baginya untuk membagi semua dukanya.