Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #35

35.Hamid dan Seorang Wanita

Kepala Hamid sontak mengangguk saat prajurit itu mengajukan pertanyaan semacam itu padanya. Ia pun menjawab, “Iya. Saya memang sudah seharusnya sendirian. Karena saya harus fokus memuroja’ah hafalan saya. Setelah itu, beristirahat untuk melanjutkan perang besok.”

“Bukan sendiri seperti itu yang saya maksud.”

“Lalu? Sendiri seperti apa yang Anda maksud?”

Prajurit wanita itu tertunduk kepalanya. Raut wajahnya terlihat tersipu malu seolah ada yang dirinya sembunyikan dari seorang pria yang kini menjadi lawan bicaranya. Dengan kepala yang tertunduk, ia berkata, “Maksud saya ... Apakah Kapten akan menjalani hidup seorang diri selamanya? Apakah Kapten tidak berniat untuk mencari pasangan hidup agar dapat menemani perjuangan Kapten?”

Tubuh Hamid yang gemetaran kini berubah menjadi kaku setelah mendapatkan pertanyaan semacam itu dari prajurit wanita yang kini duduk di sampingnya. Selama bertahun-tahun lamanya dirinya bertugas, baru pertama kalinya dirinya mendapatkan pertanyaan yang sudah sejak lama dirinya khawatirkan.

Sebuah pertanyaan yang selama ini menjadi semacam hantu baginya sejak dirinya menjalani pendidikan di Akmil akhirnya telah terwujud. Dan kini dirinya benar-benar merasa takut. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan dari prajurit wanita itu dengan kalimat apa. Jika dirinya salah berucap walau hanya satu kata, itu pasti sangat berbahaya bagi rahasia yang selama ini berusaha disembunyikannya. Hamid menolehkan wajahnya pada seorang wanita yang duduk di sampingnya. Raut wajah wanita tersebut nampak tak begitu sabar untuk mendengarkan jawaban darinya. Membuat Hamid semakin bingung ingin tentang apa yang harus dijawabnya. Sementara dirinya harus melanjutkan kegiatan muroja'ahnya. Jika dirinya tak segera menjawab pertanyaan dari prajurit wanita itu, maka malam itu kegiatan muroja'ah benar-benar tak dilakukannya. Dan ia pun akan sangat menyesal karenanya.

Agar dirinya dapat segera menyelesaikan percakapannya dengan prajurit wanita di depannya dan melanjutkan kegiatan muroja'ahnya, maka dengan sangat hati-hati dirinya menjawab, “Hmmm .... Saya memang tidak pernah memikirkan wanita. Saya berniat untuk fokus pada karier saya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah.”

“Fokus pada karier? Karier Kapten kan sudah cemerlang. Anda sudah menjadi seorang Kapten di usia muda. Apakah itu kurang cemerlang?” tanya prajurit wanita itu yang ingin mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Hamid.

Hamid berusaha untuk tak tegang dalam menghadapi pertanyaan dari seorang prajurit wanita di hadapannya. Ia lalu bangkit dari tempat duduknya lalu menjawab, “Saya rasa saya belum cukup hebat dalam karier saya. Saya merasa bahwa saya masih harus meningkatkan kemampuan saya.”

Prajurit wanita itu turut berdiri. Ia tak ingin menyerah untuk menggapai tujuannya. Ia lalu berkata, “Kapten ini belum menyadari saja kalau sebenarnya Kapten sudah sangat hebat. Toh, memiliki pasangan hidup tidak harus menjadi hebat, kan? Siapa tahu dengan memiliki pasangan hidup, karier Anda bisa semakin bagus.”

Lihat selengkapnya