Mulut Kapten Hamid yang semula bergetar karena merasa tak mampu untuk menjawab pertanyaan dari Letnan Dewi kini terbungkam seketika saat telinganya mendengar sebuah suara dari dekatnya. Dirinya pun merasa heran ketika mengetahui bahwa yang baru saja bersuara adalah Letnan Wisnu. Ia dibuat tak mengerti tentang maksud kedatangan salah seorang anggotanya tersebut.
Prajurit wanita yang diketahui bernama Dewi dan berpangkat Letnan Satu itu merasa terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Letnan Wisnu kepadanya. Hatinya mulai merasakan ketidaktenangan saat mengetahui Wisnu berdiri di dekat dirinya. Dirinya khawatir jika semua yang telah direncanakannya akan menemui kegagalan.
Letnan Dewi tak ingin rencananya yang telah disusunnya dengan matang dan telah dilaksanakan sebagian menjadi gagal hanya karena Wisnu memberikannya satu pertanyaan. Maka untuk mewujudkannya, ia harus mengubah ekspresi wajah terkejutnya dengan ekspresi ketegasan.
Letnan Dewi pun berkata pada Wisnu, “Memangnya apa juga urusan bertanya seperti itu pada saya? Kamu ini memang lancang ya!”
Wisnu sedikit menundukkan kepalanya. Lalu ia menjawab pertanyaan drai Letnan Dewi dengan berkata, “Maaf, Letnan! Saya tidak ingin bermaksud lancang. Tapi bukankah Letnan juga lancang jika bertanya tentang urusan pribadi Kapten Hamid?”
“Wisnu, kenapa kamu ada di sini?” tanya Hamid dengan nada tegas.
“Saya tidak sengaja melewati tempat ini, Kapten. Maaf, telah mengganggu percakapan Kapten dengan Letnan Dewi,” jawab Wisnu.
Wajah Letnan Dewi terlihat kesal setelah mendengar jawaban dari Wisnu. Ia pun kembali berkata, “Awas saja kamu! Kalau kamu itu pasukanku, maka aku tidak akan mengampunimu.”
Hati Wisnu tak akan gentar untuk melakukan apa yang menjadi tujuannya. Dengan menyimak sebentar tentang apa yang diperbincangkan oleh Letnan Dewi dengan Kapten Hamid dirinya dapat menarik kesimpulan bahwa Letnan Dewi memiliki maksud tertentu di balik pertanyaan diajukannya kepada Kapten Hamid. Dirinya juga melihat Hamid yang tak bisa menjaga mulutnya ketika menjawab pertanyaan dari Letnan Dewi. Ia yang tak ingin rahasia Hamid terbongkar merasa harus segera mengakhiri percakapan yang berlangsung di antara Hamid dan Letnan Dewi. Walaupun dirinya menyadari bahwa sangatlah tidak pantas bagi dirinya untuk menegur seorang komandan kompi.
Keberanian yang ditunjukkan oleh Wisnu membuat semangat Letnan Dewi untuk melanjutkan percakapannya dengan Kapten Hamid menurun. Ia menolehkan wajahnya pada Kapten Hamid lalu berkata, “Kapten Hamid! Tolong bimbing anak buah Anda ini agar tidak mengganggu orang yang sedang berbicara! Apalagi yang berbicara adalah seorang komandan.”
“Baik, Letnan. Saya pasti akan membimbingnya,” jawab Hamid dengan cepat.
“Mohon maafkan kesalahan pasukan saya ini,” tambahnya.