Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #37

37.Tak Bisa Melupakannya

Pria tua yang tak lain adalah Ustaz Latif itu memperhatikan kesedihan yang tergambar di wajah Hamid. Ia memahami bahwa hubungan Hamid dengan sahabatnya yang bernama Wisnu itu memanglah sangat dekat. Bahkan mereka lebih pantas dikatakan sebagai saudara daripada sahabat. Ia sangat memahami bahwa kehilangan sosok Wisnu pastilah membuat hati Hamid begitu terluka. Sebab Wisnu adalah salah seorang yang paling berharga dari hidup Hamid. Ustaz Latif kembali meletakkan tangan kanannya pada bahu Hamid kemudian ia berkata, “Jangan terlalu sedih seperti itu! Ini memang sudah takdirnya untuk kembali kepada Allah.”

“Lebih baik kamu do’akan saja temanmu itu supaya arwahnya tenang dan dapat di masukkan ke dalam surganya Allah!” tambahnya.

“Baik, Abi,”

Hamid mulai menengadahkan tangannya. Air matanya kembali mengalir. Disaksikan oleh Al-qur’an yang berada di hadapannya, mulut Hamid tak kunjung bergerak untuk mengucapkan do’a-do’a. Kesedihan yang mendalam yang dirasakannya akibat kematian Wisnu membuat dirinya merasa tak kuasa untuk membuka mulutnya. Maka ia pun hanya bisa mengucapkan do’a di dalam hatinya.

Ustaz Latif memperhatikan cara Hamid dalam berdo’a sejenak sebelum akhirnya dirinya mengambil posisinya untuk melaksanakan salat sunah Dhuha. Hati Ustaz Latif turut tak bisa merasakan ketenangan setelah mendengar kabar kematian Wisnu dari Hamid. Salat sunahnya pun seolah terganggu dengan ketidakfokusannya tersebut.

Ustaz Latif mencoba untuk meningkatkan konsentrasinya dalam melaksanakan salat sunah. Dengan usahanya yang cukup keras, akhirnya ia berhasil menyelesaikan empat rakaatnya. Namun konsentrasinya kembali buyar ketika mendengar Hamid yang mulai bersuara. Bukan sebuah do’a yang diucapkannya. Namun nama Wisnu yang selalu disebut oleh mulutnya.

Ustaz Latif tetap berusaha untuk fokus melaksanakan salatnya hingga gerakan salam menutup kegiatan ibadahnya tersebut. Tak lupa ia melengkapi kegiatan beribadahnya itu dengan berdo’a. Setelah menyelesaikan do’anya, ia kembali duduk di samping Hamid.

Kesedihan masih dapat terlihat jelas di wajah Hamid. Rasa sedih itu merasuk ke dalam hati sanubari Ustaz Latif. Walau begitu, ia tetap ingin memperlihatkan senyumannya pada Hamid. Ia tak ingin pemuda yang duduk di sampingnya itu lupa untuk tersenyum di saat musibah besar datang menyapa hidupnya.

Dengan senyuman yang ia bentuk di wajahnya, Ustaz Latif berkata pada Hamid, “Muroja’ah di rumah Abi, yuk! Kak Sa’ad ada di sana.”

Lihat selengkapnya