Firdaus langsung menundukkan kepalanya ketika Hamid bertanya seperti itu kepadanya. Mulutnya yang sudah terbiasa memanggil orang dengan cara yang sopan menjadikannya lupa seketika dengan peraturan yang telah diterapkan Hamid sejak pertama kali menjabat sebagai seorang komandan pasukan yang saat itu masih berbentuk peleton.
“Kamu masih ingat kan kalau di situasi seperti kamu tidak boleh berbicara terlalu formal padaku? Bukan hanya kamu. Tapi semua rekan satu kompi kita harusnya bersikap seperti itu supaya terlihat keakraban di antara kita,” ucap Hamid lagi.
“Iya, Mas. Tolong maafkan aku,” jawab Firdaus dengan kepala yang masih tertunduk. Hamid menatap wajah Firdaus sejenak. Kemudian ia menghela napas panjang lalu berkata, “Ya sudah, lain kali jangan diulangi! Sekarang, bagaimana kalau aku yang membaca dulu. Setelah itu baru kamu sampai selesai juzz empatnya.”
“Ya, Mas. Aku menurut saja.”
Setelah mendapatkan kesepakatan dari Firdaus, Hamid menarik napas panjang. Kemudian ia membuangnya dengan perlahan. Setelah itu, ia mulai membaca Al-Qur’an juzz keempat yang telah diminta oleh Firdaus. Seperti pada kebiasaannya, Hamid tak pernah mengganti irama bayati-nya ketika membaca Al-Qur’an . Begitu tenang yang dirasakan oleh Firdaus saat kedua telinganya mendengarkan suara lantunan ayat suci Al-Qur’an dari Hamid dengan fokus. Irama yang menenangkan yang dibawakan oleh sang komandan merasa bahwa dirinya tak sedang berada dalam markas yang biasanya terkesan menyeramkan. Melainkan berada di alam yang tenang dan penuh dengan kedamaian.
“Sekarang giliranmu! Kamu mau membawakan irama apa hari ini?” ucap Hamid setelah menyelesaikan bacaannya.
Seperti seorang yang tiba-tiba terbangun dari tidurnya ketika sedang mendapatkan mimpi yang baik Firdaus, tersentak. Menyadari bahwa Hamid telah selesai membacanya, ia pun menyiapkan napasnya. Kemudian ia mulai membaca dengan irama hijaz sebagai pilihannya.
Firdaus begitu menghayati bacaannya. Begitu pula Hamid yang tengah mendengarkannya. Kedua matanya ia tutup agar dirinya dapat menikmati bacaan Firdaus dengan penuh penghayatan. Terlebih saat bacaan Firdaus telah sampai pada ayat ke-169 dalam surat Ali-Imran. Ia semakin tak ingin menutup telinganya karena irama yang dibawakannya bertambah indah. Juga yang menjadi daya tarik tambahan, Firdaus mengulangi membaca ayat tersebut hingga tiga kali.
“Ah ... Ternyata hanya mimpi,” ucap Hamid ketika kedua matanya terbuka dengan sempurna
Hamid melepaskan diri dari sandarannya. Kemudian ia kembali berkata “Pertanda apa tadi? Kenapa aku memimpikan Firdaus?”
Jantung Hamid berdetak begitu kencangnya. Hatinya mulai merasakan hal yang tak menyenangkan. Seolah bertemunya dirinya dengan Firdaus di dalam mimpinya merupakan suatu pertanda terhadap apa yang akan terjadi pada salah satu prajurit yang pernah berada di bawah komandonya itu.