Tergores sebuah senyum tipis di wajah Letnan Rudi saat mendengar yang Kapten Bagus minta kepada dirinya. Ia lalu memperhatikan ekspresi wajah Kapten Bagus yang masih berdiri tegak di hadapannya. Kecemasan terlihat jelas di wajah Bagus yang sedang menunggu jawaban yang akan diberikannya.
“Oh, maaf sekali. Dia pasukanmu. Jadi sudah seharusnya menjadi tanggung jawabmu. Bukan tanggung jawabku,” ucap Letnan Rudi menjawab permintaan dari Kapten Bagus.
Rasa senang yang baru saja tercipta di hati Kapten Bagus kini telah terhapuskan seketika saat mendengar jawaban dari Letnan Rudi atas apa yang menjadi permintaannya. Sebuah jawaban yang bukanlah dari apa yang menjadi harapannya. Takdir Rudi yang merupakan rekan satu batalionnya membuat Bagus merasa yakin bahwa Rudi pasti akan langsung mengiyakan apa yang menjadi permintaannya tanpa berpikir yang lama. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Setelah berpikir sejenak, Rudi malah memberikan sebuah jawaban yang membuat rasa sedihnya kembali.
Rasa kecewa memang tumbuh di hati Bagus setelah mendapatkan jawaban dari Rudi. Namun ia masih teringat dengan Firdaus yang sangat membutuhkan golongan darah O. Maka ia tak ingin menyerah. Ia harus mendapatkan apa yang dibutuhkan oleh salah seorang anak buahnya. Ia tahu bahwa golongan darah yang dimiliki oleh seorang anggotanya itu merupakan golongan darah yang langka. Tapi hal tersebut tak menjadikan alasan bagi dirinya untuk putus asa demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
“Saya minta tolong, Letnan. Tolong donorkan darah Letnan untuk dia! Saya rela memberikan apapun yang Letnan minta asalkan Letnan bersedia untuk mendonorkan darah untuk dia.” Kapten Bagus meminta lagi.
“Sekali lagi saya minta maaf. Itu bukan tanggung jawab saya,” tegas Rudi.
Setelah menyelesaikan kata-katanya, Rudi memalingkan wajahnya dari Bagus. Kemudian ia melangkahkan kakinya untuk menjauhkan dirinya dari Bagus. Menyadari bahwa kaki Rudi telah berjalan, Bagus tak ingin lagi berdiri mematung. Ia segera menghapus setitik air mata yang sempat menetes di pipinya. Lalu ia kakinya untuk mengejar langkah Rudi.
Langkah Letnan Rudi yang cepat membuat Kapten Bagus harus berusaha lebih keras agar dapat mencapai Rudi. Setelah sedikit mengeraskan usahanya dan dapat menyamai langkah Rudi, Bagus segera menangkap tangan kanan Rudi. Tujuannya agar seorang prajurit yang pangkatnya lebih rendah satu tingkat dengannya itu dapat menghentikan langkahnya yang terlihat tergesa-gesa.
“Letnan, saya mohon Letnan! Waktu saya tidak banyak, Letnan,” pinta Bagus ketika berhasil menangkap tangan Letnan Rudi.
Merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh Kapten Bagus, Letnan Rudi bergegas untuk menghentikan langkahnya untuk kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Bagus. Ia tak sengaja melihat air mata yang mengalir di pipi Bagus. Ia ingin tertawa melihat hal tersebut. Namun ia tak bisa melakukannya karena tertutupi oleh ekspresi marahnya.
“Ah sudahlah, saya tidak punya banyak waktu,” ucap Letnan Rudi acuh.