Kapten Bagus bergegas untuk kembali menundukkan kepalanya. Masih belum tumbuh keberanian dalam dirinya untuk menatap wajah Firdaus. Dan tak tahu kapan keberanian itu akan datang menghampiri dirinya dan menghapus rasa bersalah kepada salah seorang anak buahnya tersebut.
Di satu sisi, seorang prajurit yang bernama Firman itu tak kuasa lagi untuk menahan air matanya. Hatinya benar-benar belum siap untuk berpisah dengan Firdaus. Dan memang tak akan pernah siap. Sebab kehilangan Firdaus terasa kehilangan segala dalam hidupnya.
“Abang ... Kenapa Abang pergi? Abang kan sudah janji kalau kita akan selalu bersama,” ucap Firman dengan jumlah air mata yang mengalir semakin banyak.
“Apakah ini adalah takdirku sebagai anak yatim yang harus terus kehilangan orang yang menyayangiku?” tambah prajurit tersebut.
Telinga Kapten Bagus tak sengaja mendengar apa yang diucapkan oleh Firman. Satu kalimat yang membuat telinganya merasa terbakar. Bukan karena marah atas apa yang telah diucapkan oleh anak buahnya. Namun merasa marah kepada dirinya sendirinya yang tak mampu membantu prajuritnya menyelesaikan salah satu masalahnya.
Rasa bersalah yang tak ingin pergi dari dalam hatinya membuatnya merasa tersiksa. Seharusnya ia tak kembali jika dirinya belum mendapatkan apa yang menjadi tujuannya. Seharusnya ia berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan golongan darah yang dibutuhkan Firdaus. Jika ia melakukannya, maka nyawa Firdaus pasti akan bisa diselamatkan. Namun kenyataannya Bagus tak melakukannya.
Bagus melangkahkan kakinya dan menghentikannya ketika tubuhnya sudah menyentuh ranjang Firdaus. Dengan kepala yang tertunduk semakin dalam, ia berkata pada Firman yang posisinya berjarak sedikit dari tempat berdirinya, “Tolong maafkan aku. Ini semua salahku yang tidak bisa berusaha maksimal untuk menyelamatkan nyawanya.”
“Tidak apa-apa, Pak. Ini memang bukan salah Bapak. Ini sudah takdirnya untuk Abang Firdaus kembali kepada Tuhannya,” jawab Firman dengan nada lirih.
“Kamu bisa menganggapku sebagai kakakmu. Aku akan menjadi sepertinya untukmu.”
Firman menggelengkan kepalanya lalu menanggapi, “Tidak, Pak. Tidak ada yang seperti Abang di dunia ini.”