Kapten Bagus berdiri tegak dengan tatapan mata yang tajam. Di hadapannya seorang prajurit berdiri dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. Ia baru saja melangkahkan kakinya dengan niatan untuk kembali ke kamarnya. Namun baru saja menaiki tangga yang ada di teras markas, langkah prajurit itu dihentikan oleh Kapten Bagus. Yang mana maksud dan tujuan dari seorang prajurit yang baru saja mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat itu tak diketahuinya
“Anda memang jahat, Letnan Rudi! Kamu tidak manusiawi!” ucap Kapten Bagus dengan mata yang tajam..
Tatapan mata Kapten Bagus yang seperti terdapat api yang membara di dalam bola matanya tak menjadikan Letnan Rudi lantas merasa takut dengan perwira tersebut. Karena masih belum menangkap apa yang dikatakan oleh Kapten Bagus, ia pun bertanya, “Apa maksud Anda sebenarnya? Kenapa Anda marah pada saya? Tolong menyingkirlah dan biarkan saja pergi untuk istirahat!”
“Apa? Istirahat?”
“Inilah letak ketidakmanusiawian Anda! Kamu tahu bahwa ada seorang prajurit yang sedang terbaring sakit dan kamu malah memilih untuk tidur? Bahkan prajurit yang sakit itu sekarang sudah tidak bernyawa,” tambahnya.
Kapten Bagus membuang napas sejenak. Lalu ia menundukkan kepalanya dan melanjutkan perkataannya, “Dan ini semua karena Anda.”
“Apa? Karena saya?”
Letnan Rudi masih tak mengerti tentang apa yang dikatakan oleh Kapten Bagus. Tepat setelah dirinya bertanya pada Bagus, seorang prajurit lainnya yang lebih muda darinya seketika muncul dan berdiri di samping Bagus. Letnan Rudi nampak telah mengenal sosok prajurit tersebut. Dan setelah diingat sejenak, ternyata prajurit tersebut adalah Firman. Pasukan termuda Kapten Bagus.
Letnan Rudi memperhatikan wajah Firman. Ekspresi wajah sang prajurit tak lebih dari apa yang telah ditunjukkannya beberapa menit yang lalu. Wajah polos sang prajurit terlihat semakin polos karena adanya sebuah pertanyaan besar di dalam hatinya.
Sesungguhnya merupakan sebuah kelancangan bagi Firman jika prajurit muda yang berpangkat Praka itu turut serta dalam percakapan yang terjadi di antara dua perwira. Walau begitu, ia tetap melakukannya. Karena bagi dirinya ada sesuatu yang jauh lebih penting dari itu. Ada sesuatu yang menurutnya jauh lebih penting daripada hanya sekedar bersikap tak sopan pada seorang perwira terlebih adalah pada komandannya.
“Maksud Anda bagaimana, Pak? Kenapa Bapak menyalahkan Letnan Rudi atas kematian Abang Firdaus?” tanya Firman pada Kapten Bagus.
Kedatangan Firman bukan hanya menimbulkan rasa terkejut pada Letnan Rudi. Namun Kapten Bagus juga merasakan hal yang sama. Matanya kembali melebar saat melihat kedatangan salah seorang anak buahnya yang semula telah diperintahkannya untuk menjaga Firdaus di ruangannya. Hatinya mulai merasa takut jika prajuritnya itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu kenapa kemari? Bukankah kamu seharusnya menjaga Firdaus?” tanya Kapten Bagus.
Firman sedikit menundukkan kepalanya. Lalu dengan nada yang lirih ia memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan dari Bagus. Ia pun berkata, “Maaf, Pak. Bukannya saya ingin berbuat lancang dengan melanggar apa yang Bapak perintahkan. Tapi saya hanya ingin tahu alasan Bapak meninggalkan kami saat Abang Firdaus menghembuskan napas terakhirnya. Apalagi menyebut nama Letnan Rudi.”