Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #42

42.Gugurnya Wisnu, Kesalahan Hamid?

Langit berwarna hitam gelap padahal hari baru saja dimulai. Matahari seolah malas untuk menampakkan wajahnya dan melaksanakan tugasnya untuk menyinari bumi. Mungkin matahari itu turut merasakan duka atas apa yang sedang terjadi di bumi. Seolah matahari itu juga turut bersedih seperti yang dirasakan oleh banyak orang. Terutama Hamid dan Kapten Bagus.

Hamid bahkan tak mampu memerintahkan sepasang matanya untuk menyaksikan tubuh Wisnu yang sedang diantarkan ke dalam bumi. Air matanya tak terkendali lagi. Ia tak memiliki rasa malu sebagai seorang lelaki untuk mengeluarkan emosinya saat itu. Tidak pula ia merasa sungkan untuk menampakkan kesedihannya tersebut pada sejumlah prajurit yang berdiri tak jauh darinya. Dimana prajurit-prajurit tersebut merupakan sejumlah prajurit yang tergabung dalam kompi yang pernah dipimpinnya.

Air mata itu tak pernah berhenti mengalir bahkan hingga waktu untuk mengantarkan jasad Wisnu yang telah tak bernyawa itu ke dalam bumi telah berakhir. Satu persatu orang mulai membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan tempat pemakaman tersebut. Ada pula dari mereka yang masih berdiri mematung di sana dengan pandangan mata yang terus menatap tanah makam. Seolah mereka masih melihat Wisnu di sana. Tak berbeda dengan yang dilakukan oleh Hamid yang berdiri tak jauh dari barisan Kapten Bagus dan pasukannya.

Hamid mencoba menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Kemudian ia berjalan menuju tempat Bagus berdiri. Baru saja tiba di hadapan Bagus, Hamid langsung meraih tubuh Bagus untuk kemudian diletakkan dalam dekapannya. Dalam pelukannya tersebut, air matanya kembali tumpah. Dengan napas yang terputus-putus karena tak dapat menahan air matanya, ia berkata pada seorang pria yang pernah menjadi bawahannya tersebut, “Bagus, aku tidak mau kehilangan W Aku masih sangat membutuhkan dia.”

“Aku juga tidak mau, Kapten. Aku tidak mau kehilangan Wisnu begitu juga dengan Firdaus,” jawab Kapten Bagus dengan napas yang sesenggukan pula.

Mendengar nama Firdaus disebut oleh Kapten Bagus, Hamid pun melepaskan diri dari pelukannya. Kakinya tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya. Oleh karena itu, ia meletakkan tangan kanannya di atas pundak Bagus agar dirinya tetap kuat untuk berdiri. Ia menatap wajah Bagus kemudian berkata, “Aku baru tahu kalau ternyata Firdaus meninggal juga. Bagaimana ini bisa terjadi, Bagus?”

Detak jantung Kapten Bagus seolah berhenti seketika setelah mendengar pertanyaan dari Hamid. Kepalanya tertunduk. Ia merasa tak sanggup untuk menjawab pertanyaan dari Hamid. Ia tak ingin menambah kesedihan di hati mantan komandannya tersebut dengan mengatakan kebenaran yang terjadi sehingga menyebabkan Firdaus gugur pula.

“Kenapa kamu tidak menjawab, Bagus? Aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada Firdaus sampai dia gugur.” Hamid masih ingin mendapatkan jawaban dari Bagus

Bagus tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Sikap Hamid yang kembali bertanya padanya tak mampu membuatnya untuk berpikir panjang. Maka dengan terpaksa ia pun menjawab, “Iya, Kapten. Firdaus akhirnya tak kuat setelah berjuang melawan rasa sakit di tubuhnya.”

Bagus menarik napas pendek lalu melanjutkan perkataannya, “Tolong jangan marah pada saya, Kapten! Sebenarnya saya juga terlibat atas gugurnya Firdaus?”

“Apa maksudmu?” tanya Hamid kaget.

Air mata Bagus mengalir semakin deras. Tapi ia tak memerdulikannya. Ia tetap menjawab pertanyaan dari Hamid dengan jujur. Ia berkata, “Firdaus kehilangan banyak darah. Golongan darah yang dia butuhkan adalah O. Dan saya tidak bisa mengusahakannya. Karena itu, Firdaus harus kehilangan nyawanya.”

“Bukan, Pak. Kematian Bang Firdaus bukan salah Pak Bagus. Tapi salah Letnan Rudi. Beliau punya golongan darah yang dibutuhkan Bang Firdaus. Tapi beliau tidak mau mendonorkannya.”

Suara seseorang tiba-tiba terdengar di telinga Hamid. Kapten Bagus pun mampu mendengarnya. Setelah mencaritahu dan mengetahui bahwa yang sedang menyela perbincangan mereka adalah Firman, Bagus tak merasa marah. Hamid pun demikian. Keduanya tak merasa keberatan jika prajurit itu turut campur dalam percakapan mereka.

Lihat selengkapnya