Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #43

43.Dend Istri Wisnu

Hamid mempererat pelukannya pada anak yang sedang digendongnya. Hatinya tak kuasa untuk melihat anak tersebut hidup dalam penderitaan. Terlebih penderitaan itu disebabkan oleh dirinya. Semakin dekat dengan anak tersebut, ia semakin sadar akan kesalahannya pada Wisnu. Andai kata dahulu dirinya tak melibatkan Wisnu dalam masalahnya, pasti hal sepedih itu tak kan terjadi. Seandainya dulu cukuplah dirinya yang berjuang untuk menutupi rahasianya, mungkin Wisnu tak kan gugur di medan perang. Walaupun ia harus dipecat dari TNI sejak dulu sebagai konsekuensinya.

Setitik air mata mulai jatuh dan membasahi kemeja yang dikenakan Hamid. Zahra dapat melihat kesedihan di wajah Hamid walaupun dirinya berdiri di jarak beberapa meter di belakang suaminya tersebut. Merasa tak kuasa untuk terus menyaksikannya dari kejauhan, Zahra memutuskan untuk melangkah lebih dekat dengan suaminya tersebut.

Langkah Zahra seketika terhenti setelah dirinya menyadari akan akibat yang akan terjadi jika dirinya berada di dekat Hamid. Maka ia pun memutuskan untuk hanya berdiri beberapa langkah di belakang Hamid dan berlanjut menyaksikan suaminya tersebut. Hamid menyadari niat Zahra yang ingin mendekat pada dirinya. Maka ia pun tak merasa ragu untuk mengisyaratkan pada istrinya tersebut agar terus melangkah mendekati dirinya. Meski sempat ragu, tetapi setelah Hamid meyakinkannya kembali, Zahra akhirnya menuruti perintah suaminya tersebut.

Setelah Zahra menghentikan langkahnya tepat di belakang dirinya, Hamid melepaskan pelukannya dari anak yang digendongnya. Kemudian ia mengembalikan bayi tersebut pada ibunya. Wanita yang merupakan ibu dari anak itu menerima anaknya dengan mata yang menatap Zahra. Ia menatap Zahra dengan rasa heran. Ia teringat akan cerita dari almarhum suaminya bahwa komandan kompinya adalah anak tunggal di keluarga. Sehingga hatinya menanyakan status wanita tersebut.

Hamid memerhatikan ekspresi wajah wanita itu sejenak lalu menolehkan wajahnya pada Zahra. Kemudian ia kembali menolehkan wajahnya pada wanita di hadapannya. Dari sorot mata wanita tersebut, Hamid dapat menyimpulkan bahwa wanita tersebut tengah merasa penasaran dengan Zahra yang berada di sampingnya.

Hamid membuang napas panjang. Lalu ia berkata, “Mbak pasti bertanya tentang wanita di belakang saya ini, kan?”

Hamid menundukkan wajahnya. Sebelum wanita itu menjawab pertanyaannya, hatinya telah siap untuk berkata, “Inilah yang menyebabkan Wisnu gugur, Mbak. Mungkin Wisnu mendapatkan hukuman dari Tuhan karena membantu menutupi rahasia saya yang menikah sebelum masuk Akmil.”

Kedua mata wanita itu terbelalak mendengar penjelasan dari Hamid tentang wanita yang sedang bersamanya. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia merasa bahwa telinganya pasti sedang tak fokus dikarenakan otaknya yang masih fokus memikirkan Wisnu. Sehingga dirinya salah paham tentang apa yang diucapkan pria di hadapannya itu padanya.

Lihat selengkapnya