Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #45

45.Bersiap Membuka Rahasia

Ternyata rasa nyaman dan syukur yang dirasakan Zahra tak membuat Tuhan lantas membiarkan rahasia itu terus dijaga. Tuhan membuat sebuah skenario agar bisa menjadi jalan untuk membuka rahasia mereka. Diawali dengan banyaknya wanita yang menaruh hati pada Hamid karena tertarik dengan ketampanan, kemampuan berperang, serta keimanannya pada Tuhan. Menjadi penyebab sang suami mendapatkan harus dipecat dari dunia militer yang sudah menjadi kehidupannya bahkan nyawanya. Sehingga mengharuskan suaminya tersebut harus melanjutkan ke langkah yang berikutnya yaitu membocorkan rahasia yang selama ini selalu ditutup-tutupinya pada orang-orang di sekitarnya.

Mata Zahra tertuju pada Hamid. Dirinya dapat melihat kemantapan Hamid untuk melakukan apa yang diucapkan suami tersebut. Karena tak melihat keraguan atas apa yang diucapkan Hamid padanya, Zahra pun berkata, “Kalau kamu merasa aman jika membongkar rahasia kita, maka lakukan saja!"

Bibir Hamid bergeser hingga nampak sebuah senyuman yang indah di wajahnya yang baru saja dipenuhi dengan air mata. Hatinya benar-benar telah siap untuk membuka semua yang dirahasiakannya selama ini. Ia tak memperdulikan konsekuensi apa yang akan diterimanya setelah melakukan apa yang menjadi larangan bagi dirinya selama ini.

“Aku lega mendengarnya. Soal akibat-akibat yang akan datang, kita hadapi bersama-sama, ya,” ucap Hamid.

Zahra berusaha untuk membuat kepalanya mengangguk. Kemudian ia menanggapi, “Dan untuk mengawali hal yang baru ini, aku mau Kakak jangan memanggilku dengan nama saja! Dan aku akan pun akan melakukan hal yang sama.”

“Maksudnya?” tanya Zahra dengan kedua mata yang terbuka lebar.

Hamid membuang napas panjang. Ia kemudian menyerongkan tubuhnya ke kanan. Kemudian ia kembali menghadapkan wajahnya ke langit. Ketika dirinya menghadapkan wajahnya ke langit, ia seolah dapat melihat kejadian yang pernah dialaminya beberapa waktu yang lalu.

Awan di langit seolah menjadi sebuah alat yang berisi rekaman tentang semua yang telah dialaminya sebelum hari itu. Sebuah video seolah diputar di awan putih itu. Terlihat olehnya dalam rekaman itu wajah Surya yang murung karena sering mendengar perbincangan-perbincangan yang dilakukannya bersama dengan Zahra. Baik itu masalah sederhana hingga masalah yang kompleks.

Dalam video selanjutnya, Hamid dapat melihat Surya yang dengan kepolosannya bercerita kepadanya tentang betapa harmonisnya hubungan orang tua teman-temannya. Surya bercerita ketika dirinya bermain di rumah teman-temannya, telinganya tak jarang mendengar panggilan para orang tua tersebut untuk memanggil satu sama lainnya. Panggilan semacam ayah ibu, mama papa, atau sejenisnya umum terdengar di telinganya. Namun saat di rumahnya, ia tak mendengar hal yang serupa.

Lihat selengkapnya