Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #46

46.Rahman Menyadari Kesalahan

Sesungguhnya hatinya masih merasa ragu dengan keputusan yang diambil Hamid, Zahra tetap menurut saja pada suaminya tersebut. Sebaliknya, Hamid tetap mantap pada pilihan hatinya. Ia tak menyesal dengan keputusan yang diambilnya. Senyumannya menghiasi wajahnya sepanjang perjalanan pulangnya.

Di sisi lain, seorang wanita tengah sibuk menidurkan anak dalam pangkuannya. Walau tak ada setetes air mata pun yang mengalir di wajah anaknya, tetapi ia merasa yakin kalau putrinya itu sebenarnya sangat bersedih. Ia dapat melihat kedekatan putrinya dengan suaminya, Wisnu saat pertemuan terakhirnya dengan sang putri.

Mobil berjalan dengan kecepatan yang begitu lambat. Karena bukan hanya dirinya. Namun sang sopir yang sudah bekerja pada keluarga Wisnu sejak sekitar dua puluh tahun yang lalu juga tak rela jika dirinya harus kehilangan tuan mudanya. Namun jantung sang wanita yang duduk di belakangnya sambil memangku anaknya berdetak begitu cepatnya. Api dalam hatinya terus membara. Ia tak ingin memadamkannya hingga kedua matanya dapat melihat sebuah malapetaka datang dalam hidup Hamid sebagai balasan atas apa yang dilakukan oleh mantan komandan dari suaminya tersebut.

“Kalau aku tahu mereka sedang menyembunyikan rahasia, aku pasti akan meminta Mas Wisnu untuk tidak membantunya,” ucap wanita itu lirih.

“Lagipula kenapa sih kamu harus ikut menyembunyikan rahasia pria itu, Mas? Apa komandanmu itu lebih penting dari putrimu sendiri? Katanya kamu mau mempunyai anak perempuan. Setelah Tuhan mengabulkan, kenapa kamu malah meninggalkannya, Mas?” lanjutnya seolah dapat melihat keberadaan Wisnu di sampingnya.

“Sudahlah, Mbak. Ikhlaskan saja kepergian Tuan Wisnu! Saya pernah mendengar kalau jadi keluarga tentara harus siap kehilangan anggota keluarganya yang menjadi tentara kapanpun waktunya tiba,” ucap sang sopir yang telinganya sempat mendengar keluhan majikannya.

Wanita itu menelan ludahnya. Menyiapkan suaranya setelah air mata mengenang di wajahnya. Wanita itu lalu menanggapi, “Saya memang ikhlas kalau suami saya ditakdirkan gugur di medan perang. Tapi alasan suami saya gugur di medan perang yang membuat saya tidak terima.”

“Maksudnya, Nyonya?”

Wanita itu menghapus air mata di wajahnya. Ia tak merasa ragu sedikitpun untuk menceritakan masalahnya pada sopirnya. Karena sang sopir sudah seperti bagian dari keluarga almarhum suaminya. Wanita itu pun menjawab, “Terserah Bapak percaya atau tidak. Saya juga rasanya tidak begitu percaya. Tapi hati saya tidak bisa menerima kalau itu memang benar.”

Lihat selengkapnya