Hamid kembali dikejutkan dengan pernyataan yang keluar dari mulut Ustaz Latif. Ia tak bermaksud untuk mengarahkan pembicaraannya pada masa lalunya. Dirinya hanya ingin membahas tentang Wisnu yang telah setia menemani perjuangannya untuk menjaga rahasianya. Bukan malah membahas akar permasalahannya.
Tak terlintas di pikirannya untuk membahas akar permasalahan yang sedang terjadi. Tapi mengapa ayah mertuanya itu malah mengungkit masa lalu yang merupakan akar permasalahannya? Apakah dirinya secara tidak sengaja telah memancing sang ayah mertua untuk membicarakan tentang akar permasalahan yang sebenarnya? Dan mengapa ayah mertuanya itu harus menarik kesimpulan bahwa semua yang terjadi pada rumah tangganya merupakan kesalahannya?
“Tidak, Bi. Ini semua bukan salah Abi. Ini sudah kehendak dari Allah untuk terjadi,” ucap Hamid mencoba untuk menyangkal Ustaz Latif.
“Tapi bukankah musibah yang buruk itu kita sendiri yang menyebabkannya?” Ustaz Latif menanggapi.
Tanggapan Ustaz Latif membuat mulut Hamid terbungkam. Pikirannya membenarkan apa yang dikatakan oleh Ustaz Latif kepadanya. Namun hatinya merasa berat untuk menerima pernyataan itu di hatinya. Sebab dirinya tak ingin lagi memperpanjang masalah yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu. Ia hanya ingin fokus dengan apa yang terjadi padanya sekarang.
Ustaz Rahman menundukkan kepalanya. Kejadian sepuluh tahun yang lalu melintas di pikirannya. Seolah sengaja mengingatkannya akan dosa yang pernah dilakukannya. Pada Zahra, pada Hamid, dan tentunya pada keluarganya. Mungkin juga leluhurnya di surga merasa malu dengan perbuatannya yang seolah tak berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak.
Amarah Ustazah Salamah masih sangat diingatnya walaupun kini usianya sudah tak mampu lagi untuk mengingat semua hal yang pernah terjadi padanya. Namun pada kejadian itu tak bisa dilupakannya sama sekali. Setiap detail kejadiannya masih diingatnya dengan sangat jelas.
Ia menyadari bahwa sikap sang istri yang marah ketika Yasir saat menyatakan lamaran untuk Zahra saat itu memang benar. Hamid yang saat itu baru saja lulus dari sekolah menengahnya menjadi alasan pertama yang membuat Salamah tak menerima lamaran untuk Zahra. Juga posisi Hamid yang belum memiliki pekerjaan dan hubungan yang harus dirahasiakan memperkuat alasan untuk tak menerima lamaran tersebut.
“Abi tahu kalau niat orang tuamu melamar Zahra untukmu saat itu sudah salah. Karena kamu belum memiliki kemampuan untuk menikah. Ditambah hubungan kalian harus dirahasiakan. Abi menerima lamaran itu hanya karena Abi merasa berhutang budi pada ayahmu yang telah banyak membantu Abi. Sedangkan Abi hanya membantu orang tuamu satu kali saja,” ucap Ustaz Rahman dengan kepala yang sedikit tertunduk.
“Tapi selama ini Abi sudah banyak membantuku. Saat aku dimarahi ummi, Abi selalu membelaku. Itu menunjukkan kalau Abi sudah berusaha untuk menebus dosa Abi padaku,” bantah Hamid.