Tercipta keinginan yang begitu mendalam di hati Hamid untuk memperbaiki semua kesalahannya pada keluarganya. Ia ingin memulainya dari hal sederhana. Kini ia tak ingin memiliki rasa takut untuk menunjukkan pada dunia tentang siapa Zahra, Surya, dan anak-anaknya yang lainnya. Sembari menunggu Surya pulang dari sekolahnya, ia ingin mengajak Zahra untuk pergi mencari tempat yang dapat menghilangkan rasa lapar yang sedari tadi menemaninya.
“Apa tidak sebaiknya kita pergi nanti saja menunggu Surya pulang sekolah,” usul Zahra.
“Itu ide yang bagus. Aku jadi lebih leluasa untuk memperkenalkan kalian pada orang-orang yang mungkin bertanya nanti,” jawab Hamid.
Zahra dibuat tercengang dengan pernyataan Hamid. Pandangan matanya sontak tertuju pada suaminya tersebut. Belum sempat ia menanggapi perkataan sang suami, Hamid berkata lagi, “Tapi nanti Surya pulang jam berapa?”
Zahra berhenti menatap Hamid lalu menjawab, “Aku tidak tahu. Tapi mungkin hari ini agak terlambat karena Surya ada ekstra.”
Hamid menganggukkan kepalanya pelan lalu berkata, “Baiklah. Kalau begitu, masakan aku dulu, ya. Aku sudah lapar, Habibati.”
“Iya, Habibi,” jawab Zahra dengan canggung.
Kaki Zahra bergetar hebat. Ia menguatkan kakinya itu untuk tetap bisa berjalan. Panggilan Hamid kepada dirinya selalu membuat jantungnya berdetak kencang. Walaupun sesungguhnya hatinya merasa senang.
Tanpa menunggu untuk melakukan kegiatan lainnya, Zahra bergegas untuk mengambil bahan-bahan yang akan digunakannya untuk memasak. Ia ingin memasak makanan kesukaan Hamid yang mana tidak ada yang kurang dari rasa masakan tersebut. Sebab Hamid telah memberikan panggilan khusus padanya. Maka ia pun harus memberikan sesuatu yang khusus padanya juga.
Sementara Zahra memasak, Hamid duduk di kursi makan untuk menunggu. Sambil menunggu, ia membuka ponselnya. Di dalam ponsel tersebut, masih tersimpan foto pernikahannya bersama Zahra sepuluh tahun yang lalu. Juga foto saat dirinya bersama keempat anaknya. Dan yang paling banyak berfoto dengannya adalah Surya. Memang ia adalah anak yang paling tua sekaligus yang paling banyak menghabiskan waktu bersama dirinya. Sementara ketiga adiknya hanya beberapa kali saja.
Sebuah video masih tertinggal di ponselnya. Ia pun membuka video tersebut yang ternyata merupakan sebuah video yang sempat diambil oleh Ustaz Rahman saat anak kembarnya lahir. Sebuah senyuman tulus pun terbentuk setelah menyaksikan keceriaan dan kepolosan Surya yang sempat terekam dalam video tersebut. Hingga sebuah aroma nasi goreng mendarat di hidungnya. Menghentikan kegiatannya untuk menyaksikan sebuah video yang masih tersimpan di ponselnya tersebut.
Tak ingin melewatkan makanan yang masih hangat tersebut, Hamid segera menutup ponselnya dan mengganti kegiatannya dengan memakan nasi goreng buatan Zahra. Satu sendok telah masuk ke dalam mulutnya. Dan dengan cepat mulutnya mengunyahnya kemudian memasukkannya ke dalam perutnya.
Ketika nasi goreng itu telah sampai di dalam perutnya dan ia kembali mengambil sesendok makanan tersebut, matanya tak sengaja menemukan Zahra yang duduk tepat di hadapannya. Maka tanpa berpikir panjang, ia mengarahkan satu sendok nasi yang telah diambilnya itu pada mulut Zahra.
“Kenapa? Apa nasi gorengnya tidak enak sampai kamu mau aku memakannya?” tanya Zahra yang tak mengerti tentang apa yang dilakukan Hamid padanya.
“Memangnya kenapa kalau aku mau menyuapi istriku sendiri? Ayo makan! Masa aku saja yang makan?” Hamid bertanya balik.