Sebuah Pengabdian 2

Anggrek Handayani
Chapter #50

50.Pergi ke Playgroud

Hamid menatap wajah Zahra yang tertunduk. Ia mengerti tentang apa yang dirasakan oleh istrinya saat itu. Ia tahu bahwa sang istri sangat menyayangi anak-anaknya walau senyumannya jarang ditampakkannya. Walau yang banyak ditampakkan oleh istrinya itu hanyalah ketegasan yang pada akhirnya membatasi gerak Surya karena sang anak salah memahami ketegasan sang ibu sebagai kemarahan.

Hamid menghela napas panjang lalu berkata, “Aku tahu kamu sangat menginginkan untuk menikmati waktumu bersama anak-anak. Tapi keinginanmu harus kamu relakan demi mengurus perusahaan ayah. Dan aku sangat berterima kasih padamu atas pengorbananmu itu.”

“Kalau aku bisa mengurus perusahaan, maka lebih baik aku saja yang mengurusnya. Biar kamu di rumah saja mengurus anak-anak. Fokus untuk mendidik mereka menjadi anak-anak yang lebih hebat dari orang tuanya,” tambahnya dengan suara yang berat.

Mendengar perkataan Hamid, Zahra mengangkat wajahnya sedikit. Lalu ia menghadapkan wajahnya itu pada Hamid. Ia tatap wajah Hamid dengan penuh kebanggaan. Kebanggaan atas pemikiran suaminya yang matang. Pemikiran yang membuat semua istri di dunia senang mendengarnya.

Sebenarnya ia juga ingin hidup sesuai apa yang menjadi pemikiran Hamid tersebut. Ia ingin fokus pada anak-anaknya. Pengasuhan kedua orang tuanya yang fokus pada pendidikan anak-anaknya di samping kesibukan mereka mengurus pesantren menjadi inspirasi bagi dirinya untuk melakukan hal yang sama pada anak-anaknya. Namun takdir nampaknya tak mengizinkannya. Ia harus membagi fokusnya dengan kariernya yang diinginkannya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertamanya.

Mengingat hal tersebut, Zahra kembali menundukkan wajahnya. Ia menghela panjang. Lalu ia berkata, “Tapi kamu harus fokus sama pesantren. Jadi aku yang harus mengalah untuk mengurus perusahaan.”

“Iya. Aku juga menyadari takdir kita yang harus seperti itu.”

Zahra kembali mengangkat kepalanya. Ia teringat pada sesuatu setelah berbicara tentang pesantren dengan Hamid. Ia pun berkata pada suaminya tersebut, “Kamu nanti tidak pergi ke pesantren?”

Hamid terdiam mendengar pertanyaan dari Zahra. Ia berpikir sejenak sebelum menjawab, “Aku tetap akan pergi. Aku tidak mau mengecewakan Abi. Setelah ini kamu lanjutkan jalan-jalannya sama Surya saja, ya. Lain kali aku akan ambil waktu satu hari penuh untuk menikmatinya bersama kalian.”

“Kita pulang saja lah setelah Surya bermain. Surya juga harus pergi ke rumah Abi Latif, kan?”

“Surya libur saja lah hari ini. Kasihan dia sudah lelah setelah ekstra badminton tadi.”

“Tidak. Dia harus tetap mengaji. Lagipula mengajinya hanya sebentar.” Tegas Zahra.

“Sebentar? Kamu tidak tahu saja kalau Abi akan memberi tambahan waktu mengaji untuk orang yang beliau sayangi. Aku dulu juga begitu. Seperti hidup di pesantren saja kalau dididik Abi.”

Lihat selengkapnya