Setelah membersihkan dirinya, Zahra kembali membantu Ningsih menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Tak lama setelah semua makanan telah tersaji di atas meja, Mona dan Yasir tiba di meja makan tersebut. Mereka pun langsung memuji Zahra yang telah rela meluangkan waktunya untuk melayani keluarganya. Zahra nampak tersipu malu mendengar pujian dari kedua mertuanya itu.
Mona dan Yasir mulai mengambil makanan yang disajikan Zahra di atas piring mereka. Mereka semakin tidak sabar untuk mencicipi makanan yang dimasak dengan tangan Zahra sendiri. Hanya Hamid yang belum hadir untuk menikmati sarapan bersama.
Mona menanyakan keberadaan Hamid pada Zahra. Namun belum sempat Zahra menjawabnya, Hamid muncul di ruang makan. Setelah tercium aroma sedap di hidungnya, Hamid langsung duduk dan sudah merasa tak sabar lagi untuk memakan makanan yang telah dimasak oleh Zahra. Ia kembali mencium aroma tersebut dan melihat makanan apa yang berbau sangat sedap itu. Mengetahui bahwa yang dimasak Zahra adalah nasi goreng, semangatnya untuk menikmati sarapan semakin tinggi. Hamid terus mencium aroma nasi goreng yang dimasak oleh Zahra itu. Kemudian ia mengambilnya dan meletakkannya di atas piringnya.
“Waaah ... Nasi goreng ini terlihat enak sekali. Kenapa Kak Zahra tahu kalau nasi goreng adalah makanan kesukaanku?" ucap Hamid.
Zahra hanya terdiam sambil sedikit tersenyum. Mona lalu menjawab, ”Itu pasti. Apa yang kamu tanyakan, Hamid? Zahra kan sudah mengerti semua tentangmu. Termasuk makanan kesukaanmu.”
“Oh ya Hamid. Tadi kamu memanggil Zahra dengan sebutan apa? Kakak?" tanya Yasir.
"Hamid, Zahra itu kan istrimu. Jadi tidak pantas jika kamu memanggilnya dengan sebutan itu. Walaupun semua tahu bahwa usia Zahra lebih tua darimu,” lanjut Yasir.
Hamid hanya terdiam mendengar teguran sang ayah. Zahra tersenyum lalu menanggapi ucapan Yasir dengan berkata, ”Sudahlah, Ayah! Tidak apa-apa. Itu kan hanya sebuah panggilan. Tidak perlu dipermasalahkan.”
“Tapi kan Nak....”
“Sudahlah, Ayah. Sebaiknya kita melanjutkan sarapannya. Bertanya seperti itu hanya akan merusak suasana sarapan," lanjut Zahra.
Walau masih merasa tak terima dengan panggilan Hamid ada Zahra, Yasir tetap menganggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk melupakan masalah yang sebenarnya sangat sederhana itu dan kembali menikmati makanan yang ada di depannya.
Berbeda dengan Yasir yang mulai melupakan masalah tersebut, Mona merasa tak senang dengan panggilan Hamid yang ditujukan pada Zahra. Telinganya merasa risih dengan panggilan tersebut. Sebuah panggilan yang seharusnya tak ditujukan Hamid pada sang istri karena terdengar seperti memanggil orang yang masih asing.
Ia tak ingin Hamid membiasakan diri memanggil Zahra dengan sebutan semacam itu. Ia hanya ingin Hamid memanggil Zahra dengan namanya saja. Atau menciptakan sebuah panggilan khusus yang sudah merupakan hal yang wajar dilakukan oleh sepasang suami istri. Mengingat pada waktu subuh yang lalu keduanya terlihat sangat akrab. Tak terlihat sedikitpun tanda bahwa mereka saling berselisih.